KUPANG (NTT), FigurNews.com – Kesejahteraan petani di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan tren positif pada pertengahan tahun 2026. Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik NTT pada Rabu (1/7/2026), Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi NTT pada Juni 2026 berhasil menembus angka 100,02 atau naik 0,15 persen dibandingkan Mei 2026 yang berada pada angka 99,86.
Peningkatan NTP tersebut menjadi indikator membaiknya daya beli masyarakat di sektor pertanian dan menunjukkan adanya pemulihan kesejahteraan petani di daerah tersebut.
Kenaikan NTP didorong oleh meningkatnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 0,28 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) yang hanya naik 0,13 persen. Kondisi ini menandakan pendapatan yang diterima petani tumbuh lebih cepat dibandingkan pengeluaran mereka.
Subsektor Perikanan dan Perkebunan Jadi Penopang
Kenaikan NTP pada Juni 2026 ditopang oleh kinerja positif sejumlah subsektor pertanian. Subsektor perikanan mencatat kenaikan tertinggi, yakni sebesar 1,31 persen. Disusul subsektor tanaman perkebunan rakyat yang meningkat 0,87 persen dan subsektor hortikultura yang naik 0,77 persen.
Sementara itu, subsektor peternakan juga mengalami kenaikan meski relatif tipis, yakni sebesar 0,10 persen.
Namun demikian, tantangan masih dihadapi subsektor tanaman pangan yang mengalami penurunan sebesar 0,23 persen. Penurunan ini menjadi catatan penting mengingat subsektor tanaman pangan masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian pedesaan di NTT.
Ekonomi Pedesaan Semakin Bergairah
Selain peningkatan NTP, aktivitas ekonomi masyarakat pedesaan juga menunjukkan perkembangan positif. Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) pada Juni 2026 tercatat meningkat sebesar 0,11 persen, menandakan adanya peningkatan konsumsi masyarakat di pedesaan.
Produktivitas usaha pertanian pun mengalami perbaikan. Hal ini tercermin dari Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) NTT yang naik 0,04 persen menjadi 104,90 dibandingkan bulan sebelumnya.
Pencapaian tersebut memberikan optimisme bagi peningkatan kesejahteraan petani, penguatan ketahanan pangan, serta pertumbuhan ekonomi daerah di Provinsi Nusa Tenggara Timur ke depan. (DM)








