Blitar Jatim. FigurNews.com.
Di balik senyum polosnya, Muhammad Arka Fatih Arrazi bocah 9 tahun asal Desa Ponggok, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar menyimpan kisah perjuangan yang luar biasa. Sejak akhir 2024, ia divonis menderita leukemia, kanker darah yang mematikan dan membutuhkan pengobatan jangka panjang. Di usianya yang seharusnya diisi tawa dan bermain, Arrazi justru harus bolak balik rumah sakit, menjalani kemoterapi yang menyakitkan demi satu harapan: sembuh.
Arrazi lahir pada 24 November 2016 dan tumbuh dalam keluarga sederhana. Nasib malang menghampirinya sejak usia dua tahun, ketika sang ayah meninggal dunia akibat tumor otak. Sejak itu, ia hanya tinggal bersama ibunya, Yuliana Indah Lestari, yang membesarkannya seorang diri dalam keterbatasan ekonomi. Hidup mereka yang sudah sulit semakin terpukul ketika pertengahan 2024, kondisi kesehatan Arrazi menurun drastis usai imunisasi rutin.
Demam tinggi yang tak kunjung reda memaksa Arrazi keluar-masuk rumah sakit. Ibu dan anak ini hanya mengandalkan layanan BPJS mandiri kelas 3, yang iurannya ditanggung sendiri oleh sang ibu. Setelah dirujuk ke RSUD milik Pemprov Jatim di Malang, diagnosis mengejutkan datang, Arrazi mengidap leukemia. Sejak saat itu, ia harus menjalani kemoterapi rutin di RSUD Saiful Anwar Malang, menempuh jarak jauh dari Blitar dalam kondisi tubuh yang semakin melemah.
Perjuangan ini bukan hanya soal penyakit, tapi juga tentang ketidakadilan sistem. Ketua Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Kabupaten Blitar, Arif Witanto, menyatakan keprihatinannya atas kondisi Arrazi. “Ini bukan sekadar kisah anak sakit, ini potret kelalaian sistem kita terhadap kelompok paling rentan,” ujarnya. Arif menyoroti bagaimana seorang anak yatim dari keluarga miskin tetap harus membayar iuran BPJS demi mendapat layanan kesehatan yang layak.
Arif mendesak pemerintah segera turun tangan dengan langkah nyata: memberikan fasilitas transportasi layak untuk perjalanan kemoterapi, memastikan layanan medis yang optimal dan ramah anak, serta mengalihkan status BPJS Arrazi dari mandiri ke Penerima Bantuan Iuran (PBI) agar iurannya ditanggung negara. “Negara seharusnya hadir, bukan malah membebani mereka yang paling membutuhkan,” tegasnya.
DKR juga mendorong Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial Kabupaten Blitar untuk bersinergi menyediakan bantuan langsung — mulai dari transportasi, nutrisi, hingga pendampingan psikologis bagi Arrazi dan ibunya.
Di saat yang sama, Arif mengajak masyarakat untuk tidak tinggal diam. “Jika negara lambat, masyarakat harus cepat. Ini soal kemanusiaan, soal menyelamatkan masa depan satu anak bangsa.
Kini, Arrazi masih terus berjuang. Di tengah rasa sakit karena kemoterapi, ia tetap mencoba tersenyum, memeluk harapan untuk bisa kembali sehat dan bermain seperti anak-anak lainnya. Namun harapan itu tak cukup dengan doa. Ia membutuhkan aksi nyata: dukungan sosial, kepedulian bersama, dan sistem yang benar benar berpihak kepada mereka yang paling membutuhkan.
Pewarta. Andy.








