oleh

Pemkab Lima Puluh Kota Kukuhkan Kampung Siaga Bencana Sulam Naga, Perkuat Mitigasi dan Kesiapsiagaan Masyarakat

Lima Puluh Kota (Sumbar), FigurNews.com  –  Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota terus memperkuat upaya mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana melalui pembentukan Kampung Siaga Bencana (KSB). Langkah ini diawali di Kecamatan Suliki dengan mengukuhkan KSB Sulam Naga, yang diharapkan menjadi garda terdepan penanggulangan bencana berbasis masyarakat.

Pembentukan KSB merupakan bagian dari strategi pemerintah daerah untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi berbagai ancaman bencana, seperti banjir, tanah longsor, angin puting beliung, hingga kebakaran. Mengingat bencana kerap datang tanpa peringatan, masyarakat menjadi pihak pertama yang menentukan keselamatan lingkungan sekitarnya sebelum bantuan dari pemerintah, TNI, Polri, maupun relawan tiba di lokasi.

Sebelum pengukuhan, Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota melalui Dinas Sosial bersama BPBD telah menggelar Sosialisasi Kampung Siaga Bencana di Kecamatan Suliki sebagai langkah awal memperkuat sinergi lintas sektor dalam menghadapi potensi bencana.

Komitmen tersebut kemudian diwujudkan melalui pengukuhan 60 pengurus KSB Sulam Naga yang berasal dari enam nagari, yakni Nagari Andiang, Suliki, Limbanang, Tanjung Bungo, Kurai, dan Sungai Rimbang. Pengukuhan dilaksanakan dalam Apel Kesiapsiagaan yang dirangkaikan dengan Simulasi Uji Standar Operasional Prosedur (SOP) Mitigasi Bencana di Lapangan Ateh Kubu, Jorong Suliki Pasar, Nagari Suliki, Minggu (5/7/2026).

Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota bersama Kementerian Sosial Republik Indonesia dan Dinas Sosial Provinsi Sumatera Barat.

Para pengurus KSB dipersiapkan menjadi penggerak kesiapsiagaan di nagari masing-masing. Mereka memiliki tugas memberikan edukasi kepada masyarakat, memetakan potensi bencana, melakukan mitigasi, membangun sistem peringatan dini, hingga melakukan penanganan awal ketika terjadi keadaan darurat.

Bupati Lima Puluh Kota, Safni Sikumbang, mengatakan daerahnya memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar, namun di sisi lain juga menyimpan berbagai potensi bencana yang harus diantisipasi secara serius.

Menurutnya, penanganan bencana tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah dan petugas kebencanaan. Masyarakat harus memiliki kemampuan menyelamatkan diri, membantu kelompok rentan, mengenali jalur evakuasi, dan mengambil tindakan cepat saat terjadi bencana.

“Kampung Siaga Bencana merupakan wadah untuk meningkatkan kewaspadaan, kesiapsiagaan, dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi serta mengurangi risiko bencana. Melalui KSB, masyarakat tidak lagi hanya menjadi objek yang menunggu pertolongan, tetapi menjadi bagian aktif dalam sistem penanggulangan bencana berbasis nagari,” ujar Safni.

Ia menegaskan, pengukuhan pengurus KSB Sulam Naga bukan sekadar seremoni, melainkan amanah besar untuk membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.

“Saya berharap para pengurus mampu menjadi motor penggerak dalam memberikan edukasi kepada masyarakat, membangun sistem peringatan dini di tingkat nagari, serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dalam upaya penanggulangan bencana,” katanya.

Safni juga mengajak seluruh masyarakat menjadikan kesiapsiagaan sebagai budaya melalui kepedulian terhadap lingkungan, pelestarian alam, dan semangat gotong royong.

“Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota berkomitmen terus mendukung berbagai program peningkatan kapasitas masyarakat di bidang kebencanaan agar terwujud masyarakat yang tangguh, mandiri, dan siap menghadapi bencana,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Lima Puluh Kota, Indra Suryani, menjelaskan pembentukan KSB bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali potensi ancaman dan melakukan langkah-langkah mitigasi sejak dini.

Menurutnya, penanggulangan bencana harus dimulai jauh sebelum bencana terjadi melalui pemetaan risiko, edukasi, pelatihan, dan pembentukan organisasi masyarakat yang memahami tugas masing-masing.

“Tujuan kegiatan ini adalah memfasilitasi pembentukan Kampung Siaga Bencana sekaligus mempersiapkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman bencana. Masyarakat harus memahami potensi dan risiko di wilayahnya sehingga mampu melakukan antisipasi secara mandiri,” ujar Indra.

Usai pengukuhan, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi penanganan keadaan darurat yang melibatkan Taruna Siaga Bencana (Tagana), BPBD, TNI-Polri, pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat. Simulasi tersebut menjadi sarana menguji kesiapan personel, pola komunikasi, serta koordinasi lintas sektor dalam menghadapi situasi darurat.

Dalam kesempatan itu, Kementerian Sosial RI juga menyerahkan bantuan kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana senilai Rp157.577.500. Bantuan tersebut meliputi dukungan pembentukan Kampung Siaga Bencana, penguatan Lumbung Sosial, serta pelaksanaan program Tagana Masuk Sekolah.

Lumbung Sosial disiapkan sebagai pusat logistik darurat agar kebutuhan dasar masyarakat tetap tersedia ketika akses menuju lokasi bencana terhambat. Sementara program Tagana Masuk Sekolah bertujuan menanamkan pengetahuan dan budaya sadar bencana kepada para pelajar sejak dini.

Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota berharap keberadaan KSB Sulam Naga tidak hanya menjadi organisasi formal, tetapi mampu menjadi benteng pertama dalam penanggulangan bencana melalui edukasi, latihan berkala, penyusunan jalur evakuasi, pendataan kelompok rentan, hingga penguatan sistem komunikasi darurat di tingkat nagari.

Dengan demikian, masyarakat diharapkan semakin tangguh, mandiri, dan mampu bergerak cepat serta terkoordinasi ketika bencana benar-benar terjadi. Keberhasilan Kampung Siaga Bencana tidak diukur dari banyaknya seremoni, melainkan dari kesiapan masyarakat dalam melindungi diri, keluarga, dan lingkungan saat menghadapi situasi darurat. (Adv/053)