Foto: Dok. Ketua Nusa Tebbai Mentawai, M Haris (tengah), Maneger BNI Mentawai dan Anggota saat acara penanaman Mangrove di Pantai Mapadegat
MENTAWAI. FN- Peristiwa banjir besar melanda di sejumlah Desa di Kecamatan Pulau Sipora pada 09-10 Juni 2025 lalu. Hal itu memicu komentar sejumlah tokoh pecinta lingkungan. Salah satunya, Yayasan Nusa Tebbai Mentawai.
Ketua Tebbai Mentawai, M Haris menyampaikan kepada figurnews.com pada hari ini Kamis, (12/06/2025) bahwa banjir besar di Sipora khusunya di Mapaddegat sebagai dampak dari kegiatan penebangan hutan oleh perusahaan kayu.
Ia menyebutkan, tidak pernah terjadi sebelumnya banjir besar seperti kemaren. Ia menilai hal itu terjadi sebagai dampak aktifitas perusahaan kayu di Pulau Sipora.
Menurutnya penembangan kayu dengan skala besar berdampak terhadap lingkungan. Berkurangnya jumlah kayu di pulau ini tentunya menyebabkan penyerapan volume air hujan tidak optimal.
Dampak itu terlihat ketika tingginya intensitas curah hujan mengakibatkan banjir lebih besar dari pada biasanya di sejumlah tempat seperti, Desa Tuapejat, Sidomakmur, Bukit Pamewa dan Desa Goisooinan di Kecamatan Sipora Utara. Begitu juga dengan Kecamatan Sipora Selatan di Desa Saureinu.
M Haris menghimbau penebangan hutan segera dihentikan. Apalagi Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi (DBHDR) hanya untuk pembangunan embung.
Nusa Tebbai Mentawai yang gencar menanam Mangrove itu berharap agar pemerintah tidak lagi memberi izin penebangan hutan di Kepulauan Sipora.
“Kepada pemerintah kami berharap jangan lagi memberi izin penebangan kayu di pulau Sipora, jika tidak ingin masyarakat kepulauan Mentawai sengsara nantinya, kita jaga alam, alam jaga kita,” sebutnya.
Banjir waktu lalu melanda berbagai wilayah di pulau Sipora. Salah satunya, di Mapadegat, Desa Tuapejat. Ketinggian air mencapai 30-120 centi meter. Dampak banjir tersebut merendam 104 rumah warga setempat.











