Foto: tower TEWS-Sirine, system peringatan dini tsunami di Provinsi Aceh. Sumber: Google
MENTAWAI. FN– Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mentawai waktu lalu memperingati HKB tahun 2025 di lapangan bola kaki, Desa Tuapejat, Kecamatan Sipora Utara.
Peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) pada 26 April 2025 lalu dihadiri Bupati Mentawai, Rinto Wardana dan Wakil Bupati Mentawai, Jakop Saguruk serta unsur Forkopimda lain.
Pada sambutannya Bupati Mentawai, pada HKB menyarankan agar tempat sirine tsunami dibangun di objek-objek yang tepat, salah satunya di Desa Tuapejat. Selain itu, Bupati juga menyinggung soal jalan evakuasi.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Kampung Siaga Bencana (KSB) Sikerei Desa Tuapejat, Nobel merespon baik saran itu.
Menurutnya, tower TEWS (Tsunami Early Warning System) atau sistem peringatan dini tsunami dianggap penting didirikan di area perkampungan masyarakat yang berada dekat pantai.
Tim KSB sendiri dikatakan saat ini hanya menggunakan kentongan sebagai alat peringatan. Pihaknya mewajibkan setiap rumah berjarak 100 meter dari rumah lain memiliki kentongan. Apabila terjadi gempa masyarakat dapat saling mengingatkan.
Meski demikian, pihaknya tetap membutuhkan alat komunikasi portable berupa Radio HT sebagai antisipasi saat kondisi darurat.
Ia berharap sirine berupa tower TEWS dapat dibangun di desanya. “Sembilan dusun di desa kita hanya satu dusun yang tidak berada di pesisir pantai yaitu dusun Turonia, selebihnya dekat pantai,” ujar Ketua KSB Sikerei Desa Tuapejat itu. Rabu, (30/04/2025).
Terdapat 9 dusun di wilayah desa Tuapejat yaitu, Dusun Tuapejat, Camp, Kampung, Jati, Karoniet, Mapaddegat, Turonia, Berkat dan Dusun Pukarayat.
Untuk jalan evakuasi disebutkan, hampir seluruh dusun di Desa Tuapejat telah memiliki jalan jalur evakuasi. “Semua dusun sudah memiliki jalan evakuasi dan rambu-rambu evakuasi, kecuali dusun Pukarayat,” lanjutnya.
Ia mejelaskan setiap jalan evakuasi juga telah dilengkapi dengan titik kumpul atau tempat pengungsian. Namun sifatnya sementara atau tidak memiliki fasilitas pendukung seperti dapur dan toilet umum.
“Kita berharap, dukungan dari pihak terkait untuk mewujudkan ini, khususnya logistik bencana dapat dikelola langsung oleh mitra kebencanaan, sehingga apabila ada bencana kita tidak tergesa-gesa lagi,” sebut Nobel.
Ketua KSB ini selalu berkoordinasi dengan mitra kebencanaan nasional lain seperti Ignite Stage TRC Local Tsunami dan Tsunama Ready Family di WA grup.








