Sarolangun(JAMBI) FigurNews.com– Upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran selama musim kemarau menunjukkan hasil yang positif di wilayah tertentu. Berdasarkan pantauan dan sosialisasi yang dilakukan ke 21 titik lokasi, masyarakat menunjukkan kesadaran tinggi dengan tidak melakukan pembakaran sembarangan yang melanggar peraturan.
“Usep Surya Mulyana selaku Pelindung Pendiri ketika diwawancarai oleh Awak media figurnews pada Rabu 22/07/2026. menyampaikan,”yaa. Alhamdulillah untuk sementara ini dari 21 titik api yang telah kami cek dan sosialisasikan, masyarakat tidak berani membakar karena menyadari hal itu melanggar undang-undang. Lokasi-lokasi yang kami pantau juga berada di area yang jauh dari pemukiman, bukan dekat dengan permukiman, sehingga kami bisa menangani secara langsung saat melakukan sosialisasi. Itulah mengapa masalah bisa teratasi dengan baik,” ujarnya.
Usep Surya Maulana juga menjelaskan bahwa sosialisasi dilakukan secara intensif, termasuk bekerja sama dengan pihak pengelola perkebunan sawit yang berada di sekitar wilayah. “Kebetulan di sebelah sini ada perkebunan sawit yang seharusnya anggota Kelompok Masyarakat Peduli (KMP). Mereka menyampaikan bahwa semua orang telah menyadari risiko pembakaran, sehingga tidak ada yang berani melanggar. Kami juga selalu mengingatkan bahwa pembakaran bukanlah solusi, dan masyarakat harus bertanggung jawab terhadap lingkungan dan kualitas udara yang kita hirup bersama,” katanya.
Ia menambahkan bahwa pencegahan jauh lebih penting daripada penanganan setelah terjadi kebakaran. “Ibaratnya seperti penyakit, lebih baik mencegah daripada mengobati. Kalau kita baru mengobati, terkadang masalah sudah menjadi kompleks. Namun kalau kita cegah sejak dini, kemungkinan masalah bisa teratasi dengan lebih mudah. Saat ini belum ada laporan tentang bau atau tanda-tanda kebakaran yang tidak sah,” jelasnya.
Dalam hal penanggulangan, pihaknya juga telah siap dengan berbagai alat dan tenaga yang terlatih. “Kita selalu siap setiap saat. Jika ada laporan kebakaran, dalam hitungan menit anggota akan segera datang. Kami mendapatkan bantuan dari Bank Dunia berupa mesin pemadam kebakaran tipe Robin dengan selang panjang 60 meter – ada dua unit dengan total panjang selang mencapai 400 meter. Selain itu, kami juga memiliki enam mesin pemadam gendong dan alat pemotong rumput untuk membuat zona pembatas kebakaran jika lokasi jauh dari sumber air,” ujarnya.
Sistem penanggulangan yang diterapkan adalah sistem “balas api”, di mana tim siap merespons dengan cepat. Kelompok masyarakat yang awalnya bernama Masyarakat Peduli Api (MPA) dengan jumlah anggota 15 orang telah mendapatkan pelatihan dari dinas kehutanan, bahkan sebagian anggota telah dilatih terlebih dahulu di lapangan. Pada tahun 2024-2025, nama kelompok diubah menjadi Kelompok Masyarakat Peduli (KMP), sementara kelompok lain masih menggunakan nama Masyarakat Peduli Lahan (MPL) dengan jumlah anggota hingga 30 orang, termasuk partisipasi dari ibu-ibu masyarakat.
“Alhamdulillah, kegiatan ini juga pernah diliput oleh media televisi. Meskipun wilayah kami seharusnya menjadi bagian dari kawasan KPHP Mekarsari, kami tetap aktif melakukan koordinasi melalui grup WhatsApp bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk melibatkan Kapolsek setempat untuk mendapatkan informasi yang akurat dan cepat tanggap,” tambahnya(af).








