oleh

Danlanud SMH Wanti-wanti Ancaman Karhutla Meningkat Agustus, OKI dan PALI Wilayah Paling Rawan

PALEMBANG, Figurnews,– Komandan Lanud Sri Mulyono Herlambang (SMH) Palembang, Kolonel PNB Asep Wahyu Wijaya, M.M.S., mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan diperkirakan meningkat pada Agustus 2026. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) menjadi dua wilayah yang dinilai memiliki potensi karhutla paling tinggi. Hal tersebut disampaikannya saat disela-sela pertemuan dengan Wartawan, Kamis (09/07/2026).

Menurut Danlanud, hingga saat ini kondisi karhutla di Sumatera Selatan masih relatif terkendali. Sebagian besar titik api yang muncul masih dapat ditangani dengan luasan kebakaran berkisar antara dua hingga enam hektare.

“Alhamdulillah sampai saat ini titik api masih bisa kita tangani. Namun berdasarkan prediksi, Agustus potensi karhutla akan meningkat karena pengaruh angin dari Australia yang menyebabkan kondisi semakin panas,” ujarnya.

Dalam penanganan karhutla di wilayah Sumatera bagian selatan, Lanud SMH mendapat kepercayaan sebagai Dansubsatgas Udara. Tugas tersebut meliputi menyiapkan operasi penerbangan, personel, hingga mengoordinasikan patroli udara dan pemadaman melalui water bombing.

Saat ini Satgas Udara mengoperasikan satu pesawat fixed wing dan satu helikopter patroli untuk mendeteksi titik api dari udara. Selain itu, disiagakan lima helikopter water bombing yang terdiri atas dua helikopter Mi-8 dan tiga helikopter Black Hawk.

Setelah titik api ditemukan, informasi langsung diteruskan ke Command Center untuk menentukan lokasi dan pola pemadaman. Setiap helikopter rata-rata terbang selama empat jam dan mampu melakukan sekitar 40 kali water bombing dalam satu hari.

Komandan Lanud Sri Mulyono Herlambang (SMH) Palembang, Kolonel PNB Asep Wahyu Wijaya, M.M.S foto bersama disela-sela kegiatan

“Dalam sehari ada sekitar empat sampai lima helikopter yang kita operasikan, sehingga total pelaksanaan water bombing bisa mencapai 160 hingga 200 kali,” jelasnya.

Air untuk pemadaman diambil dari sumber air terdekat, seperti sungai maupun danau di sekitar lokasi kebakaran agar proses penanganan dapat berlangsung lebih cepat dan efektif.

Asep mengatakan operasi udara berlangsung sejak pagi hingga menjelang matahari terbenam. Setelah itu, apabila masih terdapat api yang belum padam, proses pemadaman dilanjutkan oleh Satgas Darat.

Menghadapi potensi peningkatan karhutla pada Agustus, Lanud SMH juga telah menyiapkan langkah antisipasi. Jika eskalasi kebakaran meningkat, pihaknya akan mengusulkan penambahan armada helikopter water bombing kepada pemerintah pusat agar penanganan di wilayah rawan, terutama OKI dan PALI, dapat dilakukan lebih optimal.

Selain itu, Lanud SMH juga mengusulkan pembentukan tim rescue khusus untuk mendukung keselamatan operasi udara. Usulan tersebut telah disampaikan kepada BNPB Pusat sebagai bagian dari upaya meningkatkan respons apabila terjadi kondisi darurat selama pelaksanaan misi pemadaman karhutla.

“Kami berkomitmen melaksanakan tugas penanggulangan karhutla ini sebaik-baiknya. Harapannya, koordinasi antara satgas udara dan satgas darat semakin kuat sehingga kebakaran dapat ditangani lebih cepat dan tidak meluas,” tutupnya.