Padang(Sumbar), FigurNews.com — Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Sumatera Barat resmi dilantik pada Minggu (3/5/2026). Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, serta Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sumbar, Mursalim.
Dalam acara pelantikan itu, kepengurusan FPK yang baru juga diumumkan. Kang Maman terpilih sebagai ketua dan menyampaikan komitmennya untuk memperkuat pembauran kebangsaan di tengah masyarakat yang majemuk.
Dalam sambutannya, dijelaskan bahwa FPK memiliki tujuan utama untuk menumbuhkan, memantapkan, memelihara, serta mengembangkan pembauran kebangsaan melalui integrasi sosial antar suku, ras, dan etnis dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Selain itu, FPK juga memiliki sejumlah fungsi strategis. Pertama, sebagai forum mediasi, dialog, dan kolaborasi bagi berbagai komponen masyarakat multi etnis, adat, dan agama. Kedua, keanggotaannya terdiri dari para ketua organisasi lintas agama. Ketiga, wilayah kerja FPK dibentuk di berbagai tingkat pemerintahan. Keempat, FPK menjadi mitra strategis Badan Kesatuan Bangsa dan Politik.
Ketua FPK Sumbar terpilih, Kang Maman, dalam keterangannya menegaskan bahwa keberadaan FPK harus menjadi jembatan pemersatu di tengah keberagaman masyarakat. Ia berharap FPK mampu menghadirkan ruang dialog yang inklusif dan memperkuat nilai toleransi antar kelompok.
Dengan terbentuknya FPK di Sumatera Barat, diharapkan mampu memperkuat rasa kebersamaan dalam keberagaman serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya nilai-nilai kebudayaan di tengah masyarakat modern saat ini.
Kegiatan pelantikan tersebut juga turut dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat, di antaranya Kang Amin dan Datuak Budi, yang memberikan dukungan terhadap peran FPK sebagai perekat sosial di daerah.
Pemerintah daerah berharap keberadaan FPK dapat menjadi wadah yang efektif dalam menjaga harmonisasi sosial serta mempererat persatuan di tengah keberagaman masyarakat Sumatera Barat.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, menekankan pentingnya menjaga persatuan dalam bingkai kebhinekaan. Ia mengingatkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan yang harus dikelola bersama.
“Setiap pihak harus mampu menilai dan memahami perannya masing-masing. Indonesia tidak boleh dipandang secara sempit. Kita harus selalu ingat bahwa kita berpijak pada satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia. Persatuan dan kekuatan bangsa ini terletak pada komitmen kita dalam menjaga keutuhan dan pertahanan negara,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa dalam membangun Indonesia yang lebih baik, masyarakat tidak perlu lagi mencari-cari perbedaan.
“Perbedaan itu sudah ada. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyadari dan menerima keberagaman tersebut sebagai kekuatan untuk mempererat persatuan bangsa,” pungkasnya. (STV)








