Palembang, Figurnews,– Gelombang meningkatnya minat investasi di kalangan anak muda justru memunculkan kekhawatiran baru: rendahnya pemahaman keuangan yang berpotensi memicu keputusan finansial berisiko. Isu ini mengemuka dalam kegiatan Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT) 2026 Series #1 yang digelar di Graha Sriwijaya, Universitas Sriwijaya, Kamis (16/04/2026).
Kegiatan yang diinisiasi Bank Indonesia bersama Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ini menyoroti kesenjangan antara tingginya inklusi keuangan dan masih terbatasnya literasi masyarakat.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Selatan, Bambang Pramono, menegaskan bahwa literasi keuangan bukan sekadar kebutuhan individu, tetapi menjadi fondasi penting bagi stabilitas sistem keuangan nasional.
“Banyak masyarakat sudah menggunakan produk keuangan, tetapi belum memahami secara utuh manfaat dan risikonya,” ujarnya.
Data yang disampaikan dalam forum tersebut menunjukkan bahwa tingkat inklusi keuangan nasional telah mencapai 80,51 persen, sementara literasi keuangan masih berada di angka 66,46 persen. Ketimpangan ini dinilai berbahaya jika tidak segera diatasi, terutama di tengah tren meningkatnya investor muda.
Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Bank Indonesia, Arief Rachman, bahkan menyoroti fenomena fear of missing out (FOMO) yang kerap mendorong generasi muda berinvestasi tanpa dasar pengetahuan yang cukup.
“Jangan sampai keputusan investasi hanya didasarkan pada tren sesaat. Investasi tanpa pemahaman bukan peluang, tetapi justru menjadi risiko,” tegasnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, lebih dari 54 persen investor pasar modal di Indonesia berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun. Kondisi ini menunjukkan potensi besar generasi muda, namun sekaligus menjadi tantangan dalam memastikan kualitas pengambilan keputusan finansial mereka.
Sekitar 500 peserta yang terdiri dari mahasiswa, calon pekerja migran, hingga komunitas literasi di Sumatera Selatan mengikuti kegiatan ini. Mereka mendapatkan pembekalan terkait pengelolaan keuangan, pengenalan instrumen investasi, hingga strategi perencanaan keuangan jangka panjang.
Pihak Universitas Sriwijaya juga mendorong mahasiswa untuk mulai berinvestasi sejak dini, namun dengan pendekatan yang terencana dan berbasis pengetahuan.
Melalui LIKE IT 2026, Bank Indonesia berharap edukasi keuangan tidak berhenti pada tataran teori, melainkan mampu mengubah perilaku generasi muda menjadi lebih bijak, produktif, dan tahan terhadap risiko ekonomi.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa di tengah pesatnya perkembangan teknologi finansial, literasi keuangan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk melindungi masyarakat dari potensi kerugian.








