Nusa Tenggara Timur, Figur News.com — Sepanjang tahun 2025, jumlah investor saham di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami pertumbuhan signifikan. Hal ini diungkapkan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTT, Jimmi Hendrik Simarmata, dalam kegiatan Sasando Dia yang berlangsung di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Senin (2/3/2026).
Jimmi menyampaikan, berdasarkan data posisi 31 Desember 2025, jumlah investor saham di NTT tercatat mencapai 56.000 Single Investor Identification (SID), atau tumbuh 41,45 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, jumlah investor reksadana mencapai 137.399 SID atau meningkat 38,79 persen. Nilai transaksi saham juga menunjukkan lonjakan signifikan hingga Rp758 miliar, atau tumbuh 77,33 persen secara tahunan.
“Dari data ini kita memahami bahwa literasi dan inklusi keuangan, khususnya di sektor pasar modal, semakin meningkat. Masyarakat NTT mulai memanfaatkan instrumen investasi resmi,” ujar Jimmi.
Ia menegaskan, pertumbuhan investor pasar modal menjadi indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga jasa keuangan yang diawasi oleh OJK.
Meski demikian, OJK tetap mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap praktik investasi ilegal yang masih marak terjadi, terutama yang menawarkan imbal hasil tinggi tanpa risiko yang jelas.
Selain sektor pasar modal, Jimmi juga memaparkan kondisi sektor perbankan di NTT yang tetap stabil dan tumbuh positif.
Aset perbankan tercatat tumbuh 7,45 persen (year on year) menjadi Rp56,46 triliun. Penyaluran kredit meningkat 2,47 persen menjadi Rp47,41 triliun.
Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga naik 15 persen menjadi Rp48,82 triliun. Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di angka 116 persen, sementara rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) terjaga di level 3,57 persen.
“Kondisi ini menunjukkan fungsi intermediasi berjalan dan risiko kredit masih terkendali, meski likuiditas tetap perlu dijaga,” pungkasnya. (DM)








