oleh

Pemuda Tiga Talang Didorong Jadi Motor Perubahan, Diskusi “Basuo” Hasilkan Sejumlah Rekomendasi Strategis

BENGKULU,figurnews.com — Upaya mendorong peran aktif generasi muda dalam pembangunan desa menjadi sorotan utama dalam kegiatan Diskusi Basuo (Bahas Isu Basamo) yang digelar di Kantor Desa Talang Sepakat, Sabtu (27/3/2026). Forum ini mempertemukan berbagai elemen pemuda dan perangkat desa untuk membahas persoalan sekaligus merumuskan langkah konkret demi kemajuan Desa Tiga Talang.

Kegiatan yang diinisiasi Himpunan Pemuda Tiga Talang (HPTT) tersebut melibatkan beragam organisasi, mulai dari Karang Taruna, RISMA, Pemuda Peduli Tiga Talang, hingga sejumlah komunitas seperti pencinta alam dan lingkungan. Turut hadir pula perwakilan pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), serta Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) V Koto.

Diskusi berlangsung dinamis dengan menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Dr. Ahmat Setiabudi, S.Psi., M.Si., Gies Andika, S.Psi., dan Aan Saputra, S.Tp. Ketiganya menekankan pentingnya peran strategis pemuda sebagai agen perubahan di tengah masyarakat desa.

Ahmat Setiabudi dalam pemaparannya menyampaikan bahwa esensi pemuda terletak pada semangat dan daya juang, bukan sekadar usia. Ia menilai, tantangan terbesar saat ini adalah menurunnya semangat akibat zona nyaman yang membuat pemuda kurang terdorong untuk berkontribusi.

“Pemuda harus memiliki ruang untuk berkembang sesuai minat dan potensinya. Tanpa itu, sulit melahirkan perubahan yang nyata,” ujarnya.

Sementara itu, Gies Andika menegaskan bahwa sejarah telah membuktikan peran penting pemuda dalam setiap perubahan besar. Ia menilai kemajuan desa tidak akan tercapai tanpa keterlibatan aktif generasi muda yang kreatif dan inovatif.

“Kesadaran saja tidak cukup, harus diikuti tindakan nyata di lapangan,” tegasnya.

Pemateri lainnya, Aan Saputra, mengingatkan bahwa perubahan harus dimulai dari individu. Ia mendorong pemuda untuk menjadi teladan di lingkungan masing-masing, sekaligus memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Diskusi yang dimoderatori oleh Diko Okta Siswandra itu juga mengungkap sejumlah persoalan krusial di Desa Tiga Talang. Mulai dari rendahnya partisipasi pemuda, minimnya kegiatan produktif, hingga persoalan lingkungan seperti kebiasaan membuang sampah sembarangan dan munculnya perilaku sosial negatif di kalangan generasi muda.

Selain itu, peserta juga menyoroti kurangnya dukungan dari pemerintah desa serta belum optimalnya peran organisasi kepemudaan. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor penghambat kemajuan desa.

Menanggapi berbagai persoalan tersebut, forum menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis. Di antaranya restrukturisasi organisasi pemuda, penguatan kegiatan sosial dan keagamaan, pembentukan kelompok usaha berbasis pemuda, serta penyelenggaraan diskusi rutin sebagai ruang bertukar gagasan.

Peserta juga mendorong pemerintah desa untuk memberikan dukungan lebih konkret, termasuk alokasi dana desa bagi program kepemudaan guna menciptakan kemandirian ekonomi.

Melalui Diskusi Basuo ini, diharapkan pemuda tidak lagi sekadar menjadi penonton dalam pembangunan, melainkan tampil sebagai penggerak utama yang mampu membawa perubahan nyata dan berkelanjutan di Desa Tiga Talang.