oleh

PKL Kuasai Lahan Parkir, Sosiolog Sumsel DR Wijaya Soroti Potensi Pungli dan Kebocoran PAD

Palembang, Figurnews.com Fenomena Pedagang Kaki Lima (PKL) yang menguasai lahan parkir di sejumlah titik di Kota Palembang, khususnya kawasan Pasar Lemabang, dinilai menjadi salah satu penyebab kemacetan, praktik pungutan liar (pungli), serta kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD). Hal ini disampaikan oleh sosiolog Sumsel, Dr. Wijaya, yang juga merupakan pengguna jalan setiap hari di kawasan tersebut. Sabtu (23/08/2025)

“Bukan hanya soal kesemrawutan, PKL menguasai lahan parkir hingga masyarakat terpaksa memarkirkan kendaraan di badan jalan. Dampaknya, jalan semakin sempit dan macet. Kemacetan di Lemabang ini bukan takdir, tapi akibat pembiaran,” tegas Dr. Wijaya.

Menurutnya, persoalan ini tidak bisa dipandang remeh. Selain mengganggu kelancaran lalu lintas, ada potensi pungli dan kerugian daerah akibat kebocoran PAD.

Baca juga : Dishub Tertibkan Parkir di Pasar Lemabang, Jukir Keluhkan Kantong Parkir Jadi Lapak PKL

“Mengapa saya katakan ada potensi pungli dan kebocoran PAD? Karena lapak berdagang dibiarkan kosong, sedangkan lahan parkir diisi pedagang. Ketika warga digusur, mereka enggan pindah karena sudah merasa menyetor ke oknum. Begitu juga dengan parkir, akibatnya PAD anjlok,” jelasnya.

Dr. Wijaya menilai lemahnya pengawasan dan ketegasan pemerintah kota menjadi penyebab masalah ini terus berlarut-larut.
“Kalau Pemkot dibiarkan lembek, jangan harap PAD bisa optimal. PKL seenaknya kuasai lahan parkir, masyarakat dan pemerintah sama-sama rugi. Lapak kosong seharusnya jadi sumber PAD resmi, tapi malah dibiarkan. Lalu pedagang menguasai parkir dan setor ke oknum. Ini jelas merugikan daerah,” katanya.

Ia mendesak Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, untuk segera turun tangan dan mengambil langkah tegas.

“Walikota harus tegas. Segera perintahkan Satpol PP dan Perumda Pasar bekerja bersama menyelesaikan masalah ini. Kalau tidak segera ditindak, budaya pungli akan terus subur, PAD bocor, dan Palembang makin macet,” tegasnya.

Sebagai penutup, Dr. Wijaya menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi kota.
“Sebagai sosiolog dan pengguna jalan, saya sedih melihat kondisi Palembang seperti ini. Padahal jika Pemkot tegas dan OPD bersinergi, semua masalah, khususnya soal PKL, bisa selesai,” pungkasnya.