oleh

Ketimpangan Sektor Masih Jadi PR, Ekonomi Sumsel Naik karena Tambang dan Konsumsi Pemerintah

PALEMBANG,Figurnews.com, – Pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan triwulan II-2025 kembali mencatat angka positif. Namun, di balik angka pertumbuhan tersebut, struktur ekonomi yang timpang masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi daerah ini. Ketergantungan terhadap sektor tambang dan belanja pemerintah menjadi sorotan utama.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan mencatat, produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp180,45 triliun, sementara harga konstan 2010 sebesar Rp100,22 triliun.

“Ekonomi Sumsel triwulan II-2025 terhadap triwulan sebelumnya tumbuh 4,65 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 10,04 persen, sedangkan dari sisi pengeluaran, lonjakan paling signifikan terjadi pada Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PKP) yang tumbuh 19,41 persen,” ujar Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto, Selasa (05/08/2025).

Dia memaparkan bahwa Pertumbuhan year-on-year (y-on-y) ekonomi Sumsel mencapai 5,42 persen dibandingkan triwulan II-2024. Kembali, sektor yang memimpin adalah Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum dengan pertumbuhan 10,29 persen, serta dari sisi pengeluaran, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) naik 5,65 persen.

Namun, menurut Wahyu, kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan belum sepenuhnya didorong oleh sektor-sektor produktif yang kuat dan merata.

“Ketergantungan kita terhadap sektor pertambangan dan belanja pemerintah masih sangat tinggi. Ini tentu harus menjadi perhatian karena jika terjadi gejolak harga komoditas global atau tekanan fiskal, maka ekonomi kita akan rentan,” jelasnya.

Sementara itu, secara kumulatif, ekonomi Sumsel semester I-2025 terhadap semester I-2024 tumbuh sebesar 5,32 persen (c-to-c). Lagi-lagi, sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum tumbuh tertinggi 9,53 persen, dan ekspor barang dan jasa naik 9,29 persen.

Namun ekspor yang naik tersebut masih banyak ditopang oleh komoditas mentah, yang menurut Wahyu tidak serta merta menunjukkan daya saing industri lokal meningkat.

“Kita bersyukur pertumbuhan tetap positif, tapi yang perlu diperhatikan adalah fondasinya. Kalau masih terlalu bertumpu pada tambang dan pengeluaran negara, maka daya tahan ekonomi kita dalam jangka panjang bisa terganggu,” tegasnya.