Breaking News

AIR DAN GEOTHERMAL SEBAGAI ASET PENGGANTI BATU BARA


Oleh :

Salsabila Ismail

Prodi : Teknik Pertambangan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


FIGURNEWS.COM- Seperti yang kita ketahui batu bara merupakan jenis batuan sedimen organik yang terbentuk dari tumbuhan yang sudah mati dan bereaksi dengan oksigen. Banyaknya tumbuhan yang tertimbun atau bertumpuk dengan cepat mengakibatkan adanya kekurangan oksigen sehingga proses pembusukannya jauh dari kata sempurna.

Batu bara merupakan sumber daya yang sangat berharga. Sebanyak 40 persen batu bara digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik di seluruh belahan dunia.

Saat ini indonesia tengah mengalami keresahan terkait pasokan batu bara yang kian lama kian menipis. Batu bara ini akan digunakan untuk pembangkit listrik PT PLN (persero) dan pengembangan listrik swasta (Independent Power Producer/ IPP). Hal ini mencerminkan bahwa negara kita masih sangat bergantung dengan energi fosil yang dianggap paling kotor ini. Karena harganya yang murah membuat batu bara tetap menjadi idola bagi PLN maupun pegembang listrik swasta sebagai sumber energi utama pembangkit listrik di Indonesia.

Mengapa batubara disebut sumber energi yang paling kotor?

Hal ini karena batu bara merupakan salah satu sumber energi yang paling banyak menimbulkan polusi lantaran banyaknya karbon yang dihasilkan dari proses pembakaran batu bara. Karena banyaknya polusi yang ditimbulkan membuat pemakaian batu bara mulai dibatasi di beberapa wilayah.

Selama ini, gas dan BBM menjadi sumber energi alternatif batu bara. Namun, perlu diketahui bahwa Indonesia juga memiliki aset energi lainnya yang dapat menggantikan posisi batu bara. Aset ini akan sangat cocok digunakan sebagai alternatif dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan gas dan BBM.

Aset yang dimaksud adalah energi yang berbasis energi terbarukan, yakni energi air dan panas bumi (geothermal).

Sebagai negara maritim yang sebagian besar wilayahnya dikelilingi air menjadikan Indonesia  negara yang strategis dalam perdagangan dunia dan hasil laut hingga pertanian yang melimpah, serta membuat indonesia kaya akan sumber daya air. Hal ini tentunya dapat menjadi peluang besar bagi indonesia menjadikan air sebagai sumber energi yang dapat menggantikan penggunaan batu bara. Hal ini dikarenakan tenaga yang dihasilkan dari energi air tidak mengeluarkan efek gas rumah kaca dan tidak mencemari udara, sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.  

Indonesia memiliki sumber daya air yang melimpah sehingga dapat digunakan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 2021, potensi energi air untuk dijadikan sumber energi PLTA RI mencapai 94,6 Giga Watt (GW). Namun, hingga September 2021 tercatat baru dimanfaatkan PLTA sebesar 6.432 Mega Watt (MW). Artinya, baru dimanfaatkan sebesar 6,8% dari potensi yang dimiliki.

Maka dari itu, pemanfaatan air sebagai sumber energi haruslah dilakukan secara maksimal. Sebagai energi yang dapat digunakan berulang kali, energi listrik yang dihasilkan dari air tidak bergantung pada bahan bakar fosil sehingga tidak menyebabkan pencemaran lingkungan dan ekosistem akan tetap terjaga. Air yang disimpan di dalam waduk dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pasokan listrik. Pemanfaatan energi air dinilai ekonomis mengingat biaya produksinya yang rendah karena tidak membutuhkan bahan bakar lain maupun produk impor lainnya. Dan biasanya pembangkit listrik tenaga air dibangun dengan umur yang cukup lama, hal ini dapat menjadi investasi jangka panjang dan sangat menguntungkan bagi kehidupan di kemudian hari.

Tidak hanya air secara geografis, Indonesia merupakan negara yang berada di lintasan The Pacific Ring Of Fire mempunyai beberapa keuntungan, salah satunya adalah memiliki energi panas bumi/ geothermal yang terbentuk secara alami di wilayah pegunungan yang aktif membuat Indonesia memiliki 40% cadangan energi geothermal dunia atau sekitar 28.000 MW. Energi ini tersebar sekitar 300 titik di tanah air. 

Walaupun, negara kita memiliki potensi energi panas bumi sebanyak 23,7 GW. Namun, yang baru dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) hingga September 2021 hanya sebesar 2,186 MW. Artinya, hanya sekitar 9,2% saja yang baru dimanfaatkan.

Alasan mengapa geothermal menjadi energi alternatif pengganti batu bara adalah karena geothermal merupakan energi alternatif ramah lingkungan. Geothermal hanya memanfaatkan energi panas bumi sehingga memberikan efek kecil terhadap lingkungan. Hal ini dibuktikan dengan emisi gas karbon yang dihasilkan oleh geothermal hanya 75 gram per Kwh, sangat sedikit jika dibandingkan dengan BBM 772 gram per Kwh.

Selain itu energi panas bumi adalah energi yang dapat terbarukan (renewable) dan stabil dibandingkan dengan sumber energi terbarukan yang lain seperti tenaga surya dan angin. Energi panas bumi/geothermal juga merupakan sumber daya yang mudah dihitung, sehingga dapat diprediksi keluaran dayanya dari pembangkit panas bumi dengan tingkat akurasi yang tinggi.

Dilihat dari sisi kapasitas terpasang PLTP dunia, pada akhir tahun 2020 indonesia menduduki peringkat kedua dengan kapasitas sebesar 2.130,7 MW. Besarnya potensi kedua aset Indonesia ini dapat membuat negara kita mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan batu bara. Terlebih, biaya pembangkitan rata-rata keduanya lebih murah dibandingkan gas dan BBM. 

(Salsabila Ismail)

Tidak ada komentar

PT. Figur Anugrah Media Mengucapkan: Selamat datang di www.Figurnews.com, Terima kasih telah berkunjung.. Semoga anda senang! Tertanda Pemred: Yuamran Andre