Breaking News

Sayang Nyawa Sayang Keluarga, Ayo Jadilah Polantas Bagi Diri Sendiri

Ket foto:  kegiatan tim gabungan polantas, Jasa Raharja dan Samsat di Malaka dalam rangka operasi bersama.

KUPANG, Figurnews.com -- 

Setiap saat selalu saja  tidak pernah luput yang namanya kasus kecelakaan baik di darat, laut, udara. Setiap kasus yang ada menjadi 'santapan'  pemberitaan media yang membuat kulit tubuh merinding dan cuma mampu mengelus dada.

Nyawa manusia hilang dalam hitungan detik jika terlambat mendapatkan pertolongan. Dada terasa sesak buat kaum keluarga. Kaget bercampur sedih membaur dan tidak bisa berkata-kata seolah tidak percaya dengan tragedi kecelakaan yang menimpa orang yang dikasihi.

 Miris ketika membaca data yang disajikan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT tentang korban kecelakaan lalu lintas antara 2018-2021 di NTT.  Korban meninggal dunia tahun 2018 sebanyak 515 tertinggi di Sumba Barat 58 kasus, 2019 sebanyak 493 kasus, 2021 sebanyak 375 kasus.

Korban luka berat pada tahun 2018 total 518 kasus, tahun 2019 sebanyak 485 kasus dan tahun 2021 total  429 kasus. Untuk luka ringan tahun 2018 total 2.384 kasus, tahun 2019 total 1.851 kasus dan tahun 2021 total 1.408 kasus.

Sementara dari hasil rilis Media KOMPAS disebutkan bahwa dalam kurun waktu tahun 2020 tercatat 376 orang meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas di 22 kabupaten/kota. 

Adapun penyebab kecelakaan, antara lain, adalah pengendara dalam kondisi mabuk saat mengemudikan kendaraannya.

Data Kepolisian Daerah NTT menyebutkan, selain 376 tewas, kecelakaan lalu lintas juga menyebabkan 384 orang luka berat dan 1.280 luka ringan. Jumlah itu menurun dibandingkan dengan 2019. Saat itu, korban meninggal dunia tercatat 462 orang, luka berat  460 kasus, dan luka ringan 1.863 orang.

”Selain mabuk, kecelakaan lalu lintas juga dipicu ketidakpiawaian mengemudi, kendaraan tidak laik, hingga kondisi jalan yang tidak memadai,” kata mantan Kepala Polda NTT Inspektur Jenderal Lotharia Latif dalam pemaparan akhir tahun di Kupang, Selasa (29/12/2020).

Menyimak bentangan data kecelakaan lalulintas ini tentu menjadi keprihatinan bersama. Peran semua stakeholder harus bisa mensosialisasikan perihal pentingnya keselamatan berlalulintas.

Tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang mulia untuk menyelamatkan nyawa manusia di jalan. Harga satu nyawa tidak bisa disamakan dengan segepok uang jutaan rupiah ataupun sebongkah emas murni 12 karat.

Salut buat PT Jasa Raharja yang jauh-jauh hari siap memelopori program keselamatan di jalan raya. Ide brilian dari institusi ini hendaknya menjadi titik awal untuk bersama bergandengan tangan dengan para pihak.

Jajaran kepolisian dengan perannya sesuai Undang-Undang yang sudah ada, tokoh agama dengan menyerukan di mimbar rumah ibadah.

 Tokoh masyarakat berperan menyampaikan pesan kemanusiaan di setiap hajatan keluarga. Orangtua berperan mengingatkan kaum keluarga untuk selalu hati-hati di jalan. 

Jika semua warga menjadi polantas bagi diri sendiri maka diyakini angka kematian seperti dibentangkan di atas diminimalisir. Dengan demikian NTT akan menjadi provinsi yang terendah angka kecelakaan lalulintas.

Peran Jasa Raharja 

PT Jasa Raharja adalah sebuah BUMN yang bergerak di bidang asuransi sosial. Kegiatan usahanya yakni melaksanakan asuransi kecelakaan penumpang alat angkutan umum dan asuransi tanggung jawab. Kegiatan tersebut telah diatur sebagaimana dalam UU No. 33 dan 34 Tahun 1964.

Peran yang dilakukan Jasa Raharja tentu ada sisi baiknya karena setiap korban kecelakaan akan diberikan santunan buat keluarga yang ditinggalkan. Namun, apakah dengan santunan lantas membiarkan nyawa harus melayang sia-sia di jalan. Tentu bukan menjadi keinginan PT Jasa Raharja maupun para pihak lainnya terutama keluarga.

Justru berkaitan dengan kecelakaan ada kriteria tertentu dalam hal membayar santunan kecelakaan. Seperti halnya disampaikan Direktur Jenderal Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Budi Setiyadi bahwa mereka tidak akan menjamin santunan untuk korban kecelakaan dari penumpang travel gelap.

Hal senada dipertegas Direktur Utama Jasa Raharja Budi Rahardjo Slamet bahwa, Jasa Raharja hanya bisa menyalurkan santunan kepada korban kecelakaan yang berstatus sebagai penumpang dari agen travel resmi. Sedangkan untuk travel gelap, tidak ada aturan yang mendasarinya.  

"Travel gelap itu tidak dijamin jasa Raharja, itu benar. Kalau terjadi musibah kecelakaan, khususnya kecelakaan tunggal, karena jasa Raharja itu akan mengutip iuran wajib atau premi daripada penumpang terhadap travel yang berbadan hukum resmi," ujarnya dalam sesi teleconference, Kamis (6/5/2021).

Mengutip pernyataan  Kepala PT Jasa Raharja Cabang Provinsi NTT, Muhammad Hidayat beberapa waktu lalu bahwa dalam Undang - Undang sudah secara jelas pemerintah memberikan peran pada Jasa Raharja dalam hal penanganan kecelakaan.

Dirinya menyebut bahwa ada yang namanya  kategori alat angkutan umum yaitu semua berkaitan dengan transportasi baik itu di darat, laut, udara, sungai maupun penyeberangan. 

Setiap penumpang yang melakukan pembayaran ataupun yang mengeluarkan ongkos itu wajib dilindungi oleh Jasa Raharja bersamaan dengan ongkos yang telah dibayarkan.

 Kemudian ada kategori berkaitan dengan lalu lintas jalan yang erat kaitannya dengan kesamsatan. 

Disebutkan Hidayat, setiap orang pemilik kendaraan baik roda dua maupun jenis mobil pada saat  melakukan pembelian kendaraan  diwajibkan dan  kewajiban untuk membayarkan pajak kemudian Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) bersama Samsat kemudian diidentifikasi oleh jajaran Polri.

Menyimak penjelasan ini maka ada jaminan buat pemilik kendaraan jika mengalami kecelakaan berupa asuransi. Tetapi ini bukan dijadikan alasan untuk mengabaikan keselamatan di perjalanan. 

Setiap pemilik kendaraan tentu wajib menaati aturan berlalulintas dengan melengkapi surat kendaraan seperti SIM, STNK, BPKB juga wajib mengecek kondisi kendaraan apakah laik beroperasi atau tidak.

Ingatlah pesan para orangtua dahulu bahwa ketika seseorang pengendara menghidupkan mesin kendaraan dan mulai berjalan maka saat itu cuma ada dua pilihan, tiba dengan selamat tanpa cacat atau pulang dengan membawa peti mati kepada keluarga.

Untuk itu, marilah menjadi Polantas bagi diri sendiri dengan berusaha sayangi diri dan ingat bahwa keluarga menunggu di rumah. Mereka tentu selalu mengiringi perjalanan dengan doa dan berharap kembali dalam keadaan aman dan selamat. Sayang Nyawa Sayang Keluarga, Ayo Jadilah Polantas Bagi Diri Sendiri.(Erni)

Tidak ada komentar

PT. Figur Anugrah Media Mengucapkan: Selamat datang di www.Figurnews.com, Terima kasih telah berkunjung.. Semoga anda senang! Tertanda Pemred: Yuamran Andre