Breaking News

Ketua DPRD Pesisir Selatan Ermizen Sarankan Pos Retribusi Depan Masjid Terapung Dipindahkan Saja.

 


Painan, Figurnews.com -- Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) Sumatera Barat, Ermizen menyarankan agar pos retribusi masuk kawasan wisata Carocok Painan tidak dipusatkan di depan Masjid Samudra Ilahi atau lebih dikenal dengan Masjid Terapung.

Menurutnya, pos retribusi masuk kawasan wisata tersebut dipindahkan saja dari depan masjid itu.

Sebab, hal itu akan menjadi kerancuan bagi pengunjung yang belum mengetahui fungsi dari pos tersebut.

"Iya, sebaiknya dipindahkan saja," jelas Ermizen saat dihubungi Figurnews.com, Sabtu (14/5/2022).

Politisi PAN itu mengatakan pemerintah daerah atau melalui dinas terkait disarankan untuk membuat pos retribusi satu paket dengan pintu masuk yang dijaga dinas perhubungan di kawasan utama masuk wisata Carocok Painan.

Bahkan sebut dia, Pendapatan Asli Daerah (PAD) bakal bisa bertambah jika dibuat sepaket di pintu utama masuk kawasan Carocok.

"Jadi, bisa di tempat semula atau dipindahkan ke pintu masuk utama dekat perhubungan jaga pintu masuk, langsung satu paket dengan parkir.

Malahan bisa bertambah PAD kita," ujarnya.

Untuk itu, Pemda juga tidak perlu cemas soal berkurang atau bertambahnya PAD melalui retribusi masuk kawasan wisata.

Jika, pengelolaannya terurus dengan baik dan maksimal, maka kebocoran PAD yang dikhawatirkan dapat ditekan.

Sementara salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan pemerintah daerah mesti profesional dalam mengelola kawasan wisata Carocok Painan.

Seharusnya, jika memang pos retribusi itu diberlakukan di depan masjid terapung yang telah viral itu, maka harus ada sosialisasi sehingga masyarakat atau pengunjung luar daerah tidak salah paham dengan keberadaan petugas yang memungut biaya masuk kawasan wisata di depan masjid terapung.


"Kalau saya melihat, itu sepertinya dadakan. Atau karena kemarin itu momen lebaran ya, sehingga untuk meningkatkan PAD dibuat kebijakan seperti itu. Nah, sekarang menjadi bola liar dan dipelintir banyak orang. Ini akibat kalau sosialisasinya tidak jalan," katanya

Dengan viralnya masjid terapung seolah berbayar masuk masjid tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi pemerintah daerah dalam pengelolaan kawasan wisata.

"Ambil hikmah dari semua kejadian itu. Masukan dan saran atau kritik dari warga, pengunjung luar atau netizen juga dapat diserap untuk solusi yang lebih baik," ulasnya.

Sebelumnya diberitakan Masjid Samudra Ilahi atau Masjid Terapung di kawasan wisata Pantai Carocok Painan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat akhir-akhir ini semakin terkenal. 

Masjid tersebut viral di media sosial bukan karena keindahannya yang berada atas lautan, melainkan viral karena adanya pos retribusi yang berada di depan kawasan masjid.

Dengan pos retribusi itu, seolah masyarakat atau pengunjung yang datang harus membayar jika masuk ke masjid. Namun, faktanya, Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Peisir Selatan telah menjelaskan yang berbayar adalah masuk kawasan wisata Carocok Painan.

"Jadi, yang berbayar itu masuk kawasan wisata Carocok Painan, bukan masuk masjid" jelas Wildan selaku Kepala Bidang Pariwisata, Ekonomi Kreatif.

Pengunjung dengan tujuan wisata berbayar sebesar Rp5 ribu per orang. Hal tersebut juga telah sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2018 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Retribusi Jasa Usaha.

Dengan viralnya masjid terapung yang dipenuhi ragam komentar pro dan kontra di media sosial Facebook, Sekretaris Daerah Pesisir Selatan, Mawardi Roska kembali angkat bicara.

Sekda mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah memviralkan keberadaan masjid terapung. Sehingga, viralnya masjid itu menjadi promosi gratis.

 Ucapan terimakasih juga disampaikan kepada pihak-pihak yang menanggapi dari berbagai cara pandang. Semuanya itu, sebut dia adalah masukan yang sangat berarti bagi pemerintah daerah. 

"Dengan hal ini, membuka pintu untuk masuk ke persoalan yang sebenarnya. Yang penting diniatkan untuk memajukan Pasisie, dan kita minta ampun kepada Allah SWT jika ada terbesit  sekecil apapun di hati utk meangkuhkan diri, menyalahkan apalagi "mengdosakan" seseorang, karena itu domainnya yang maha kuasa" jelas Sekda, Sabtu (14/5/2022).

Secara rinci, Sekda Pessel juga menjelaskan 10 hal soal keberadaan kawasan objek wisata Pantai Carocok :

1. Sebahagian besar daratan/tanahnya adalah milik adat (kaum) dan hak milik sendiri, hanya tanah hasil rekalamasi pantai (penimbunan laut) yang milik Pemda. Batu kereta, pasir pulau Cingkuak milik  adat/kaum (kecuali tanah dalam ex benteng pulau Cingkuak milik negara). Tanah milik Pemda lainnya adalah jalan tembus dari jembatan batang Salido ke Carocok, dan jalan ke puncak bukit Langkisau.

2. Di atas reklamasi pantai/laut, telah dibangun beberapa fasilitas pendukung pariwisata (parkir,land mark pantai Carocok, tempat berdagang, dermaga pendaratan kapal wisata, jembatan di atas laut, pentas, masjid  Samudera Illahi (masjid apung), pedestrian pantai (tenpat berjalan kaki), lampu taman dan lampu high masht serta utilitas lainnya.

3. Terhadap jasa yang disediakan ini, sesuai dengan regulasi yang ada, telah ditetapkan dengan Perda untuk tarif masuk kawasan wisata pantai Carocok sebesar Rp. 5000,- per org dan tarif angkutan kapal wisata dan alat sarpras bermain air milik pemda lainnya (sekarang kapal dan sarpras bermain air milik pemda tdk dioperasikan lagi).

4. Di atas tanah milik adat dan hak milik sendiri yang berada dalam kawasan ini, ada rumah penduduk dengan berbagai aktifitas, baik sebagai tempat tinggal maupun sebagai tempat penyedia jasa pendukung pariwisata.

5. Antara tanah milik Pemda dan tanah milik masyarakat belum ada pagar (pagar dimaksudkan utk menghilangkan akses masuk wisatawan yg ilegal), serta pintu masuk yang representatif sebagai objek wisata.

6. Semua pengunjung yang masuk dgn karcis, sejak 15 th lalu telah diasuransikan, begitu juga dg penumpang dan ABK kapal wisata.

7. Para pedagang dan penyedia jasa pariwisata, baik di dalam kawasan maupun di sekitar kawasan belum dipungut pajak, karena wisata harus mendatangkan kesejahteraan kepada masyarakat.

8. Kelompok Sadar Wisata (pokdarwis), pemandu wisata, home stay, kuliner, kelompok perahu wisata, pedagang sudah ada dan dilakukan pelatihan guna peningkatan kapasitas (sering kali). Juga kepada kapal wisata kita berikan bantuan jaket pelampung bagi penumpang.

9. Kelembagaan dan manajemen pengelolaannya sampai saat ini masih melekat dengan Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga, Satpol PP, Kebersihan (dinas Perkimtan LH), parkir dengan Dinas Perhubungan, Posko Kesehatan dengan Dinas Kesehatan, BPBD serta bantuan tenaga dari Polri dan TNI.

10. Perda tentang BUMD yang akan mengelolah objek wisata telah ada, tapi masih belum dilaksanakan, karena berbagai alasan dan pertimbangan teknis lapangan.

Terhadap isue viralnya pos retribusi di depan masjid terapung sebagai tempat penjualan tiket masuk kawasan wisata, Sekda mempertegas bahwa pemungutan karcis masuk objek wisata sebesar Rp. 5000,- per orang adalah amanah dari Perda. 

"Tempat pemungutannya dekat masjid memang benar, dan ini kami memang menyadari dari awal akan mudah diplintir. Akan tetapi karena kondisi lapangan (yang mudah untuk mengarahkan pengunjung ke satu titik), karena banykanya pintu masuk, serta target PAD dari sektor retribusi wisata Pantai Carocok yg telah ditetapkan, dan harus ditunaikan Pemda-lah hal ini terjadi," ujarnya.

 Selain itu, Keluhan-keluhan pengunjung, baik di kawasan yang dikelola Pemda maupun yang dikelola pihak lainnya diakuinya memang banyak.

Kata dia, itu semua menjadi energi bagi Pemda untuk perbaikan ke depannya, dan berhadap untuk semua pihak secara proporsional.

Viralnya karcis masuk "masjid" tersebut sebut Sekda akan menjadi penasaran wisatawan lainnya untuk berkunjung. 

"Dengan viral ini, mungkin saja banyak orang belum kenal, maka akan kenal dan penasaran untuk datang, membuktikan kebenaran isue tersebut. Karena untuk biaya promosi suatu produk adalah sangat besar dan Pemda belum mampu untuk membiayainya, maka dengan  viralnya ini membantu Pemda mempromosikannya," katanya.

Mawardi Roska mengatakan terlepas dari kesan buruk atau baik terkait hal yang diviralkan itu, menurutnya, hal itu telah membranding kawasan wisata pantai Carocok. Alhasil, sedikit atau banyak orang akan penasaran untuk berkunjung.(Ef).

Tidak ada komentar

PT. Figur Anugrah Media Mengucapkan: Selamat datang di www.Figurnews.com, Terima kasih telah berkunjung.. Semoga anda senang! Tertanda Pemred: Yuamran Andre