Breaking News

 


'Talempong' Warisan Budaya Tak Benda Yang Harus Dijaga

Ratusan Siswa memainkan Talempong Pacik di Museum Istano Pagaruyung (Foto Doc: Humas Pemkab Tanah Datar)


Oleh : HENDRI

Talempong. Mendengar alat musik ini tentu semua masyarakat Minangkabau mengenalnya. Talempong memang gampang dikenali karena bunyinya yang khas dan sering dimainkan dalam berbagai pertunjukan seperti randai, perhelatan pesta, penyambutan tamu, pagelaran tari, mengiringi pengantin dsb. Ia dimainkan oleh sekelompok orang diiringi dengan tabuah (tambur), dan instrumen musik lainnya sehingga menciptakan musik yang indah.

Talempong adalah salah satu musik tradisional Minangkabau yang sampai saat ini masih kita temukan. Ia terbuat dari Kuningan yang bentuknya hampir sama dengan gong namun dalam ukuran lebih kecil. 

Dilansir dari laman 1001indonesia.net,  lingkaran Talempong berdiameter antara 15–17,5 cm dan tinggi 8 cm dengan bagian bawah berlubang.

Bunyi yang dihasilkan alat musik itu berasal dari kayu yang dipukulkan pada bagian bundaran di bagian atasnya. 

Alat musik pukul khas Minang ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu di bumi Minangkabau. Awalnya, alat musik tersebut bersifat sakral dan hanya dimainkan di lingkungan istana kerajaan.

Seiring berjalannya waktu alat musik itu semakin populer. Kini keberadaannya menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Minang. Talempong bahkan bisa dikatakan sebagai alat musik yang paling mewakili identitas sekaligus menjadi kebanggaan orang Minangkabau.

Dilihat dari bentuknya talempong memiliki dua jenis: seperti ditulis museumnusantara.com:

Jenis Talempong

Berdasarkan cara memainkannya, instrumen musik Talempong dibagi menjadi dua jenis. Talempong Pacik atau Talempong Renjeang merupakan jenis yang pertama. Sedangkan jenis yang kedua bernama Talempong Duduak. 

Talempong Pacik atau Talempong Renjeang.

Sesuai dengan namanya, pacik berarti dipegang. Ketika memainkan talempong jenis ini, para pemain dalam posisi berdiri maupun duduk tetapi instrumen tersebut dijinjing atau dipegang sembari dipukul mengikuti melodi yang dibutuhkan. Tiga hingga lima orang masing-masing akan memainkan pola ritme yang berbeda sehingga menghasilkan keselarasan bunyi yang enak untuk didengar.

Talempong Duduak

Berbeda dengan pacik, talempong duduak dimainkan dengan keadaan para penabuh yang duduk bersila atau bersimpuh. Talempong itu sendiri nantinya akan diletakkan pada sebuah kotak persegi panjang yang di daerah Minangkabau dikenal dengan nama rea (Melayu: rehal). Cara memainkan talempong jenis ini lebih sulit ditemui dan hanya ada di beberapa wilayah budaya Minangkabau. Tidak seperti pacik yang umumnya dikenal oleh banyak khalayak.

Seperti yang diuraikan diatas, Talempong di Minangkabau selain berfungsi sebagai pengiring taria-tarian, upacara adat, mengiringi penganten dan juga mengiringi musik lagu Minang, juga sebagai upacara penyambutan tamu kehormatan. Beberapa pejabat negara yang pernah berkunjung ke Museum Istano Basa Pagaruyung sering disambut dengan musik Talempong ini. 

Kita patut berbangga sampai saat ini alat musik Talempong terus dijaga dan dilestarikan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda. Bahkan pada  Festival Pesona Minangkabau 2019 di Istano Basa Pagaruyung berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan jumlah 1.599 pemain.

Namun sebaliknya, warisan budaya tak benda inipun seharusnya diwariskan kepada generasi muda kita sekarang, agar Talempong tidak tergilas dimakan zaman dan dikalahkan oleh instrumen musik modern. (**)


Sumber:

1. 1001indonesia.net

2. Museumnusantara.com

Tidak ada komentar

PT. Figur Anugrah Media Mengucapkan: Selamat datang di www.Figurnews.com, Terima kasih telah berkunjung.. Semoga anda senang! Tertanda Pemred: Yuamran Andre