Breaking News

 


"Sibinuang" Hadiah Perkawinan Untuk Puti Bungsu dari Cindua Mato

 

Patung Kuda Gumarang dan Kerbau Sibinuang (Foto Doc: figurnews.com)

Oleh : HENDRI


Alkisah!

Pada suatu hari Cindua Mato meminta izin kepada Bundo Kanduang pergi bermain kegelanggang Datuak Bandaharo di Sungai Tarab. Bundo Kanduang menitah padanya agar Dang Tuanku juga dibawa dan kemudian ia berpesan pula kepada Dang Tuanku agar Datuak Bandaharo menerima Cindua Mato untuk dipertunangkan dengan putrinya si Upiak Lenggo Geni. Sesampai di Sungai Tarab Dang Tuanku terlebih dahulu menanyakan bagaimana keadaan pelaksanaan adat Minangkabau disana dan baru menyampaikan pesan ibunya kepada Datuak Bandaharo. Sang Datuak menerima tawaran Bundo Kanduang dan dengan senang hati menerima untuk mempertunangkan anaknya dengan Cindua Mato. Hari itu juga mereka menyetujui dan bertukar tanda pertunangan.

Setelah acara itu Dang Tuanku bermain ke gelanggang perhelatan sedangkan Cindua Mato mengitari negeri Sungai Tarab meninjau keadaan. Tidak sengaja Cindua Mato bertemu dengan pedagang dari Sungai Ngiang yang membawa berita bahwa Puti Bungsu akan kawin dengan Imbang Jayo karena tunangannya Dang Tuanku dikabarkan sakit kulit parah dan tidak mungkin sehat lagi. Diberitakannya juga bahwa pertunangan Dang Tuanku dengan Puti Bungsu oleh pihak Rajo Mudo dan digantinya dengan Imbang Jayo, yaitu raja daerah Sungai Ngiang. Setelah mendengar berita itu Cindua Mato Marah tanpa berbicara. Ia langsung menjemput Dang Tuanku dan segera pergi dari Sungai Tarab menuju Istano Pagaruyung.

Sesampai di Istano Cindua Mato diam dan menyendiri dikamarnya. Setelah ditanya dan didesak oleh Bundo Kanduang barulah ia menceritakan berita tersebut. Berita itu sangat memalukan bagi kerajaan Pagaruyung dan  raja Bundo Kanduang pun marah, geram, menyesalkan keputusan Rajo Mudo yang diluar ketentuan adat itu. Untuk mengambil solusi yang  tepat, Bundo Kanduang melakukan musyawarah kerajaan dengan Basa Ampek Balai (badan pemerintahan), Dang Tuanku dan Cindua Mato. Setelah ada beberapa usulan dalam sidang itu Dang Tuanku mengajukan usul untuk mengutus Cindua Mato secara kekeluargaan untuk mengantarkan hadiah sebagai tanda suka hati Raja Pagaruyung untuk perkawinan Puti Bungsu ke ranah Sikalawi. Semua peserta menyetujui usulan Dang Tuanku yang kemudian menjadi keputusan bersama.

Sebelum keberangkatan, secara pribadi Dang Tuanku memanggil Cindua Mato dan menyampaikan pesan rahasia bahwa Puti Bungsu harus dibawa ke Pagaruyung. Cindua Mato sudah memahami pernyataan itu sejak awal dan amat arif membaca penegasan pesan Sang Tuanku. Setelah itu seluruh unsur kerajaan melepas Cindua Mato berangkat ke Sungai Ngiang dengan menunggangi si Gumarang (kuda kerajaan), dan membawa siBinuang (kerbau besar Bundo Kanduang) sebagai hadiah perkawinan Puti Bungsu

Itulah sepenggal cerita Kaba Cindua Mato yang diambil versi penulis Syamsuddin Sutan Rajo Endah, Terbitan Kristal Multi Media Bukittinggi cetakan ke-2 tahun 2008.

Dalam kisah tersebut siBinuang atau nama kerbau Bundo Kanduang disebut sebagai hadiah untuk perkawinan Puti Bungsu. Dalam masyarakat Minangkabau, Kerbau sangat mempunyai falsafah yang tinggi, bahkan nama Minangkabau sendiri pun berasal dari 'Manang Kabau'.

Membicarakan tentang kerbau dalam kehidupan masyarakat Minangkabau merupakan sebuah hal yang memiliki banyak simbol dan makna.  

Ahmal, Dosen Sejarah FKIP UR dalam Jurnal PPKn dan Hukum mengatakan; Berdasarkan wawancara dengan Mak Katik, salah seorang budayawan di Sumatera Barat menjelaskan bahwa kerbau dalam kehidupan masyarakat memiliki perilaku yang bisa menjadi renungan dalam kehidupan. 

Berikut perilaku kerbau yang bisa dijadikan catatan dalam kehidupan.

1. Kabau binatang maha dan dagingnyo lamak (kerbau binatang mahal dan dagingnya lezat). Kerbau adalah binatang  termahal dalam kehidupan masyarakat di Sumatera Barat, tidak ada binatang yang lebih mahal dibandingkan kerbau. Di samping itu Daging kerbau merupakan daging yang enak. Oleh kerena itu dalam malewakan penghulu pucuk di Nagari    Sintuk, harus menyembelih kerbau. Sebab penghulu pucuk adalah orang yang     ditinggikan saranting dalam kehidupan masyarakat. Ada sebuah idiom dalam masyarakat mana yang lebih tinggi marwahnya memotong sapi dari kerbau, semua orang Minangkabau sepakat lebih bergensi memotong kerbau. Oleh karena itulah memotong  kerbau untuk penghulu pucuk menjadi penting kerena gensinya akan lebih tinggi. 

2. Kerbau itu kalau matanya merah dan badannya mulai terasa panas maka kerbau akan mencari tempat bertaduh atau masuk kedalam kubangan. Ketika talinya pendek dan tuanya tidak ada didekatnya kerbau bisa mati dalam kepanasan. Dalam kontek kehidupan ini menjadi sebuah catatan, ketika menghadapi masalah yang sulit untuk mengatasinya saat itu. Tindakkan terbaik adalah mendiamkan diri sampai bertemu penyelesaian masalah tersebut. Jangan masalah tersebut dilawan dengan kekuatan atau kekuasaaan, sebab akan menimbulkan kebinasaan. Dalam konteks penghulu, ketika menghadapi masalah yang berat dalam kaumnya. Maka penghulu harus menjauh sejenak dari  permasalahan tersebut atau mendiamkan masalah. Disaat itulah sang penghulu mencarikan solusi dari permasalahan yang dihadapi. Seorang penghulu dilarang lari jauh meninggalkan kaumnya apalagi ketika kaumnya ada masalah.

3. Kabau pai kubangan tingga (kerbau pergi  kubangan tinggal). Perilaku kerbau adalah ketika dia mendapatkan kubangan baru, maka kubangan lama akan ditinggalkan. Padahal kubangan bagi seekor kerbau merupakan komponen utama untuk  bertahan hidup, tanpa mandi seekor kerbau bisa mati. Dalam konteks kehidupan, seharusnya tidak boleh meninggalkan masa lalu yang telah mendatangkan manfaat bagi kehidupan. Sedangkan bagi seorang penghulu jangan pernah pergi meninggalkan anak dan kemanakannya, walaupun mengunakan berbagai alasan.

4. Kabau bajalan leso rumput kanai luluk (Kerbau ketika keluar dari kubangan setiap  jalan yang dilalui kotor kerena lumpur). Dalam menjalani kehidupan jangan pernah berbuat kita mendapatkan kesenangan, orang lain mendapatkan kesusahan. Sedangkan bagi seorang penghulu ketika dia telah meninggal dunia jangan meninggalkan aib yang akan selalu disebut oleh anak kemanakannya.

5. Dima kubangan ka dibuek dima rumpuik kadisabik (dimana  kubangan kerbau akan    dibuat dan dimana rumput kerbau akan diambil). Perilaku ini selalu digunakan oleh setiap orang yang akan memilihara kerbau. Seharusnya prilaku ini menjadi sebuah kewajiban bagi kita dalam menjalani semua aktifitas kehidupan. Setiap manusia harus menyadari apa yang  akan dilakukan dan bagaimana dia  menjalani setiap  keputusan,  serta siap  dengan solusi  penyelesaiannya. Sedangkan bagi seorang penghulu, mereka harus menyadari bahwa jabatan penghulu memiliki beban yang sangat kompleks oleh karena itu harus berpikir-pikir sebelum menerima jabatan tersebut. Sedangkan dibidang harta pusaka, seorang calon penghulu harus mengetahui apa saja pusaka kaum yang masih ada, setelah itu baru baban penghulu diterima.

Itulah Simbol Kerbau bagi Ranah Minang. Dan jikalau kita memasuki Museum Istana Pagaruyung, Disebelah kanan gerbang, akan terlihat si Benuang dalam bentuk patung dan disini sebelah kiri gerbang tegak berdiri Kuda si Gumarang. Kerbau si Binuang dan Kuda si Gumarang. Dubalang yang setia di Istana Pagaruyung. Berdisiplin ketat, patuh tanpa sikap ragu kepada kerajaan. (**)


Referensi;

1. Tambo alam Minangkabau

2. Ahmal;Jurnal PPKn dan Hukum

Tidak ada komentar

PT. Figur Anugrah Media Mengucapkan: Selamat datang di www.Figurnews.com, Terima kasih telah berkunjung.. Semoga anda senang! Tertanda Pemred: Yuamran Andre