Breaking News

 


'Pepatah Adat' Warisan Budaya Non Benda yang harus dilestarikan.


Oleh : HENDRI

Salah satu budaya masyarakat Minangkabau yang Hampir punah adalah pidato adat atau petatah-petitih. Petatah-petitih juga sering kita kenal dengan Alua Pasambahan, adalah lambang kehalusan budi bahasa dari masyarakat Minangkabau. Pandai merangkai kata, serta mengormati lawan bicara adalah cerminan diplomasi masyarakat Minangkabau dalam mencapai sebuah kesepakatan.

Dalam www.wikiwand.com menjelaskan: Pantun dan pepatah-petitih dalam alam masyarakat Minangkabau,  merupakan salah satu bentuk seni persembahan dan diplomasi yang khas. Pada umumnya pantun dan pepatah-petitih menggunakan bahasa kiasan dalam penyampaiannya. Sehingga di Minangkabau, seseorang bisa dikatakan tidak beradat jika tidak menguasai seni persembahan. 

Meski disampaikan dengan sindiran, pantun dan pepatah-petitih bersifat lugas. Di dalamnya tak ada kata-kata yang ambigu dan bersifat mendua. Budaya pepatah-petitih, juga digunakan dalam sambah-manyambah untuk menghormati tamu yang datang. 

Sambah-manyambah ini biasa digunakan ketika tuan rumah (si pangka) hendak mengajak tamunya makan. Atau dalam suatu acara pernikahan, ketika pihak penganten wanita (anak daro) menjemput penganten laki-laki (marapulai).

Selain berkembang di Sumatra Barat, pantun dan pepatah-petitih Minangkabau juga mempengaruhi corak sastra lisan di Riau dan Malaysia.

Budaya serupa juga terlihat disaat penyambutan tamu istimewa. Diamping disuguhi sekapur sirih dan tari Pasambahan juga diiringi dengan pidato adat.

Di Museum Istano Pagaruyung hal tersebut biasa kita lihat. Saat batagak tonggak Tuo misalnya. Para pemangku adat akan melakukan pidato adat disaat tonggak tuo akan dinaikkan. Begitupun psosesi menaiki Museum Istano Pagaruyung, setelah jamba (makanan) dihidangkan, terlebih dahulu diawali dengan Pasambahan makan.

Sumatera Barat pantas berbangga karena Pasambahan Adat diakui  secara Nasional dan ditetapkan sebagai Warisan Budaya tak Benda kategori Adat Istiadat Masyarakat, Ritus dan Perayaan oleh Kemdikbud RI pada tahun 2015.

Namun saat ini Pasambahan seakan hampir punah. Dibeberapa helatan pernikahan hampir tidak terlihat lagi Pasambahan dalam proses perbikahan. Cara dilakukan sekarang adalah dengan cara musyawarah secara kekeluargaan, kemudian disahkan dengan pernikahan dan pesta.

Sudah seharusnya Alua Pasambahan adalah kebanggaan bagi masyarakat Minangkabau. Di Museum Istano Basa Pagaruyung seharusnya disediakan media untuk melihat serta mempelajari Alua pasambahan ini. Begitupun kepada generasi muda Minangkabau, memperkenalkan dan mengajarkan Alua Pasambahan sebuah keharusan, agar tetap lestari. (**)

Tidak ada komentar

PT. Figur Anugrah Media Mengucapkan: Selamat datang di www.Figurnews.com, Terima kasih telah berkunjung.. Semoga anda senang! Tertanda Pemred: Yuamran Andre