Breaking News

 


Menyemai Benih Kebaikan Melalui Filosofi 'Rabuang'

 

Ragam Ukiran Di Dinding Museum Istano Pagaruyung (Foto Doc: figurnews.com)

Oleh : HENDRI

Bagi sebuah rumah gadang, ukiran bukan hanya sebatas hiasan semata, melainkan sebagai simbol atau lambang yang mengandung makna. Konsep ukiran tersebut adalah Alam Takambang Jadi Guru, dan dipadu dengan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Dibalik bentuk yang terencana, dalam desain ukiran Minangkabau, terdapat makna dan tujuan yang tidak dapat dipisahkan dengan sejarah masyarakat Minang itu sendiri.

Salah satu ukiran yang terdapat di bangunan Museum Istano Pagaruyung adalah Motif Pucuak Rabuang. Motif ini tersebar pada tiang dan pada bagian dinding.

Motif pucuk rebung lambang kehidupan yang berguna atau bermanfaat. Semasa muda buluh dinamakan rebung, rebung dijadikan bahan sayuran atau gulai.

Pucuak Rabuang (rebung) disebut juga dengan tunas bambu. Setelah besar dinamakan dengan Buluh, yang sudah besar (dewasa) dinamakan betung, dan betung memiliki sifat yang lentur sehingga mudah dibentuk, diantaranya untuk kraf tangan yang didesain untuk berbagai kelengkapan rumah tangga. Buluh yang sudah tua dinamakan ruyung, yang banyak dipakai untuk sesuatu yang kuat, separti tiang, lantai dan dinding rumah.

Kehidupan buluh dari kecil sampai tua menggambarkan kehidupan berguna dan tidak sia-sia, yang dilambangkan dengan motif pucuk rebung.

Dalam pepatah dikatakan: Dek ketek inyo banamo, lah gadang inyo bagala. Dek ketek banamo rabuang, lah gadang banamo batuang, lah tuo banamo ruyuang. Hiduik kutiko mudo baguno, hiduik kutiko tuo tapakai. (‘Semasa kecil dia bernama, setelah besar dia bergelar. Ketika kecil bernama rebung, setelah dewasa bernama betung, setelah tua bernama ruyung. Hidup ketika muda berguna, hidup ketika tua terpakai’).

Mempergunakan bahan material buluh disesuaikan dengan keadaan: Nan panjang ka pambuluah, nan pendek ka parian, nan rabuang ka panggulai. (‘Yang panjang untuk saluran air, yang pendek untuk tempat air, yang rebung untuk digulai atau dimasak’).

Kehidupan buluh dari kecil merupakan lambang kehidupan manusia. Rebung dibungkus dengan kelopak yang bermiang. Yang berarti anak itu harus dipelihara sedemikan rupa dan jangan disia-siakan. Apabila ditarik pada garis kehidpan manusia, rebung disejajarkan dengan murid sekolah tingkat dasar dan sekolah rendah. Rebung beranjak dewasa batangnya lurus, namun masih dibungkus kelopak, disejajarkan dengan murid sekolah menengah yang masih harus dilindungi. Tumbuh lurus ke atas melambangkan cita-cita yang tinggi dan menuntut ilmu yang banyak. Buluh yang lurus mulai tumbuh ranting-rantingnya satu per satu dan daunnya menjadi rimbun dan ujungnya mulai merunduk. Dihubungkan dengan manusia pada usia ini sudah mulai bertanggung jawab pada diri dan lingkungannya serta keluarga tetapi belum memiliki ruyung.

Selanjutnya, daun buluh mulai menguning dan ujung buluh yang paling atas semakin merunduk ke bumi, artinya walaupun sudah banyak memiliki ilmu manusia akan kembali ke asalnya dan ingat asal-usulnya. Buluh yang sangat tua mulai mengeluarkan bunga pertanda kematangan usia. Bunga merupakan lambang kematian yang meninggalkan nama baik, seperti yang diungkapkan pepatah: ‘Manusia mati meninggalkan nama, harimau mati meninggalkan belang’.

Memang alam selalu menjadi guru yang sangat berharga bagi masyarakat Minangkabau. Rabuang atau Tunas Bambu mempunyai filosofi yang sangat dalam. Dari tunas sudah membawa manfaat seperti bahan gulai, sudah menjadi batang bambu pun sangat bermanfaat. Itulah contoh kehidupan manusia dimuka bumi yang selalu menebarkan kebaikan dan bermanfaat bagi alam sekitarnya.

Motif hias pucuk rebung merupakan tafsiran nilai guna yang banyak. Pengrajin mematrikan motif ini kedalam ukiran sehingga makna dari nilai yang serba guna ini menjadi suri tauladan bagi masyarakat adat tersebut. Sama halnya Dt. Garang (1983) mengatakan, Motif ini tidak saja dipahatkan menjadi motif ukiran rumah adat, melainkan juga menjadi bentuk dasar gonjong rumah adat, hal ini dapat di lihat pada falsafah adat yakni; ketek paguno, gadang tapakai (kecil dapat digunakan, besar terpakai oleh masyarakat). 

Fenomena lain yang dapat dipelajari dari bambu ini sebagaimana dijelaskan Wimar dalam Bart (2006), bahwa ketika sudah menjadi batang yang tinggi, pucuknya selalu merunduk kebawah. Ini lambang dari kekuatan tanpa kesombongan, salah satu sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. 

Dapat ditafsirkan bahwa, nilai mendidik yang tersirat dari motif Pucuak Rabuang, yakni pemimpin yang kuat dan punya ilmu pengetahuan serta berkharisma tinggi tentu disegani oleh banyak orang. Sementara itu rebung sebagai nilai simbolik kepemimpinan tentu belum mampu menjadi pemimpin namun ia dapat menjadi bagian dari proses regenerasi kepemimpinan. (**)


Literatur:

1. Dr. Agustina, M.Hum Dkk : Ragam Hias Ukiran Minangkabau (UNP-2010)

2. Budiwirman :  Makna Mendidik Pada Kriya Songket Silungkang Sumatera Barat

Tidak ada komentar

PT. Figur Anugrah Media Mengucapkan: Selamat datang di www.Figurnews.com, Terima kasih telah berkunjung.. Semoga anda senang! Tertanda Pemred: Yuamran Andre