Breaking News

 


Kentalnya Pengaruh Islam Terhadap Kerajaan Pagaruyung


Oleh : HENDRI

Minangkabau terkenal dengan falsafahnya yaitu “Adat basandi Syarak” yang artinya adat bersandi kepada Syarak (syari’at)/ Syarak Basandi Kitabullah (Syariat bersandi kepada Al-Qur'an). Dengan kata lain bahwa agama adalah penopang daria adat yang ada di wilayah tersebut. Bersandi syarak berarti, Syari’at yang tak lain adalah syari’at Islam.

Semenjak Islam masuk ke Minangkabau, sejak itu pula agama menjadi bagian dari adat dan budaya di Minangkabau.Wilayah Minangkabau sendiri pada mulanya bukanlah wilayah Islam, sebelumnya merupakan wilayah yang masyarakatnya menganut agama Hindu dan Budhha. Namun pada perkembangannya setelah masuknya Islam ke wilayah Sumatera melalui Aceh, dan akhirnya sampai ke wilayah pesisir barat Sumatera melalui para pedagang yang berinteraksi dengan masyarakat lokal, maka islam mulai menjadi agama yang diterima olah masyarakat Minangkabau.

Pada awalnya Islam merupakan agama yang berkembang di wilayah pesisir namun akhirnya terus masuk ke wilayah daratan dan akhirnya sampai ke Pagaruyuang yang akhirnya Raja beserta pemuka adat menerima ajaran islam dan menjadikan Islam sebagai agama. Maka berubahlah kerajaan Pagaruyuang yang beragama Buddha berganti menjadi Kerajaan Atau Kesultanan Islam Pagaruyuang. Dan akhirnya Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah di masyarakat Minang yang menjadi identitas, lahir dari sebuah kesadaran sejarah dan pergumulan tentang perjuangan dan hidup. 

Masuknya agama Islam dan berpadu dengan adat istiadat setempat melahirkan kesepakatan luhur. Bahwa sesungguhnya seluruh alam merupakan ciptaan Allah SWT dan menjadi ayat-ayat yang menjadi tanda kebesaran-Nya, memaknai eksistensi manusia sebagai khalifatullah didunia.

Kerajaan Islam Pagaruyuang dalam perjalanannya tidak seperti kerajaan-kerajaan Islam lainnya, dikarenakan adat yang berlaku di wilayah Minangkabau dimana garis keturunan berdasarkan garis keturunan ibu (Matrilineal), tak banyak catatan menganai siapa saja Raja yang berkuasa di masa Kerajaan Islam Pagaruyuang terlepas dari adanya Tambo yang berdasarkan cerita saja. Hanya ada beberapa Raja yang bisa dilacak.

Di Museum Istano Basa Pagaruyung, pengaruh Islam bagi penduduk terlihat dari koleksi peninggalan busana pria dan wanita yang pernah dipakai. Untuk wanita, pakaian adat dengan warna mencolok khas minang dibentuk menjadi gamis lengkap dengan hijab.

Kemudian juga dapat dirujuk dari inskripsi cap mohor Sultan Tangkal Alam Bagagarsyah, yaitu pada tulisan beraksara Jawi dalam lingkaran bagian dalam yang berbunyi sebagai berikut: Sultan Tangkal Alam Bagagar ibnu Sultan Khalifatullah yang mempunyai tahta kerajaan dalam negeri Pagaruyung Darul Qarar Johan Berdaulat Zillullah fil 'Alam.

Dan dikomplek Museum Istano Basa Pagaruyung kita juga akan menjumpai dua buah surau tempat dimana masyarakat melaksanakan ibadah shalat.

Pengaruh Islam lainnya juga mempengaruhi terutama yang berkaitan dengan sistem patrialineal.

Islam juga membawa pengaruh pada sistem pemerintahan kerajaaan Pagaruyung dengan ditambahnya unsur pemerintahan seperti Tuan Kadi dan beberapa makna berbeda-beda yang berkenaan dengan Islam. Penamaan nagari Sumpur Kudus yang mengandung makna kudus yang berasal dari kata Quddus (suci) menjadi tempat kedudukan Rajo Ibadat dan Limo Kaum yang mengandung kata qaum yang berarti terang, adalah pengaruh dari bahasa Arab atau Islam. Selain itu dalam perangkat adat juga muncul kata Imam, Katik (Khatib), Bila (Bilal), Malin (Mu'alim) yang adalah pengganti dari istilah-istilah yang berbau Hindu dan Buddha yang dipakai sebelumnya misalnya, Pandito (pendeta). (**)

Sumber :

1. investor.id

2. Rizka Maulani : Magister UIN Syarih Hidayatullah Jakarta

Tidak ada komentar

PT. Figur Anugrah Media Mengucapkan: Selamat datang di www.Figurnews.com, Terima kasih telah berkunjung.. Semoga anda senang! Tertanda Pemred: Yuamran Andre