Breaking News

 


"KARIH"

Koleksi Keris di Museum Istano Basa Pagaruyung (Foto Doc: figurnews.com)


Oleh : HENDRI


Karih Sampono Ganjo Erah, tasisik condong kakida, dikesong Mako dicabuik. 

Kokoh tak rago dek ambalau, kok guyah bapantang tangga, bengkoknyo Allahu Rabbi. 

Tapi luruih makanan banang, bantuak dimakan siku-siku. 

Bamato baliek batimba, tajam tak rago dek baasah, runciang tak rago dek barawik. 

Tapi bapantang malukoi, ipuah nan turun dari langik, biso bapantang katawaran jajak ditikam mati juo. 

Kondak Tuhan nan balaku, insan tak dapek bakuaso. 

(Efendi Sutan Mudo: Guru Adat dan Pasambahan, Nagari Limo Kaum).


Kata-kata tersebut diatas sering kita dengar dalam Pasambahan adat Minangkabau. 'Karih' ( keris) salah satu koleksi yang kita jumpai di Museum Istano Basa Pagaruyung.

Keris adalah sejenis senjata yang menjadi kebesaran bagi bangsa Jawa, Semenanjung dan Minangkabau. Hikmah dan kesaktian keris ini bagi setiap suku bangsa mempunyai perbedaan perbedaan juga. Setiap suku bangsa percaya  dan meyakini bahwa pamor keris itu ada yang bertuah dan sampai sekarang masih saja dipercayai bahwa ada keris yang bertuah yang dapat membawa kesukaran dan bencana bagi pemilknya atau sebaliknya. Mata keris itu mempunyai Kurai atau barik-barik yang menjadikan ukiran pada matanya.

Dalam sejarah kita mengetahui beberapa keris sakti yang terkenal dalam sejarah.

Hang Tuah Laksamana termasyhur dari tanah Melayu mempunyai sebilah keris sakti yang bernama Kertala Saru, yang didapatnya dari seorang Jawa dalam suatu duel bersenjata. Kesaktian keris ini, sipemegangnya tidak mempan dimakan senjata. Dan kalau musuh menikamnya maka seakan akan pemiliknya diselubungi oleh keris itu. Dan ketika keris itu jatuh kelaut, Hang Tuah menjadi hambar dan sejuk hatinya dan menarik diri dari lapangan kekesatriaan.

Dalam sejarah tanah Jawa terkenal dengan keris Empu Gandring. Keris ini dipergunakan oleh Ken Arok untuk membunuh Tunggul Ametung. Tetapi karena tiada kesabaran Ken Arok sehingga ia membunuh sipembuatnya. Empu Gandring.

Demikian pula orang-orang besar dan raja-raja mempunyai keris sakti itu seperti Dang Tuangku, Anggun Nan Rongga, Magek Jabang dan lain-lain.

Jadi keris merupakan senjata kehormatan bagi suku bangsa Jawa, Melayu dan Minangkabau. Di Minangkabau hanya para penghulu saja yang boleh mensisipkan  keris dipinggangnya itupun waktu-waktu tertentu. Anak buah atau orang kebanyakan tidak dibolehkan memakai keris, karena keris adalah lambang kebesaran dan kehormatan penghulu di Minangkabau.

Keris bagi seorang penghulu adalah suatu tanda kebesaran. Memakainya disisipkan dirusuk pinggang sebelah kiri seraya hulunya dihadapkan keluar, yang mengartikan:

Pertama bahwa keris itu tidak akan dicabut, jika tidak dipandang sebagai suatu senjata dalam arti yang sebenarnya.

Kedua bahwa penghulu sifatnya memberi dengan tidak mengharap balas.

Keris adalah lambang keadilan sebagai syarat mutlat bagi penghulu yang memegang hukum. Hulu keris bungkuk menekur, menandakan bahwa sipemakai adalah seorang ahli pikir dan memperbanyak pikir, agar hati hati dan cermat menjalankan undang-undang. 

Langgai pada hulu keris menyatakan bahwa adat itu berjenjang naik bertangga turun. Keris itu bergombo luar dalam, maksudnya setia Patuik Jo Mungkin, sepakat Raso Jo Pareso.

Diminangkabau ada keris pusaka namanya Karih Sampono Ganjo Erah. Sampono artinya membawa berkat, Ganjo Erah yaitu tangkai keris dengan matanya satu keping, tidak bersambung. Keris dimasa dahulu adalah pusaka istana Pagaruyung, telah ada sejak awal abad XVIII.

Keris tersebut masih bisa kita jumpai dimuseum Istano Basa Pagaruyung. Disamping itu ada beberapa koleksi keris lainnya diantaranya, Replika Keris Tunggal Kilau Malam. Benda pusaka Istana Pagaruyung, bekal Raja Lenggang yang dirajakan ke Renban Sri Menanti tahun 1808. Replika Keris Geliga Tunggal Malam. Benda Pusaka Istana Pagaruyung, bekal Tuanku Abang Raja Manti Putih Karat ke rantau Kala-Kala Kuning Tanah Kucing Serawak akhir abad XVIII. (**)



Sumber:

1. Tambo Adat Minangkabau: ditulis Oleh H. Datoek Toeah. Diedit oleh A. Damhoer)

2. (M. Rashid Manggis Dr Rasjo Panghoeloe; Minangkabau Sejarah Ringkas dan Adatnya)

3. Museum Istano Basa Pagaruyung

Tidak ada komentar

PT. Figur Anugrah Media Mengucapkan: Selamat datang di www.Figurnews.com, Terima kasih telah berkunjung.. Semoga anda senang! Tertanda Pemred: Yuamran Andre