Breaking News

 


Duduak Samo Randah Tagak Samo Tinggi

 

Rumah Gadang Bodi Caniago (Foto Dok: figurnews.com)

Oleh : HENDRI


"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa, Sungguh Allah Maha Mengetahui, Maha teliti". (Q.S:49 ayat 13)

Surat Alhujarat ayat ke-13 diatas menjelaskan bahwa semua manusia sama Dimata Allah. Tidak ada perbedaan suku, ras, bahasa dan bangsa. 

Ayat tersebut juga diperkuat dengan Hadits Rasulullah SAW:

Imam Muslim dan Ibn Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: "Allah tidak memandang kepada penampilan dan harta kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian".

Itulah kemulian manusia disisi Sang Penciptanya. Mulianya sesorang bukan ditentukan oleh pangkat, jabatan, status sosial atau ekonomi tapi yang paling baik akhlaknya.

Dalam filosofi Minangkabau kita mengenal istilah: "Duduak Samo Randah, Tagak Samo Tinggi". Kalau kita sejajarkan dengan ayat diatas mempunyai makna yang sama. Sama disisi Sang Pencipta, sama disisi hukum dan sama dalam mendapatkan fasilitas sosial. Budaya lokal Minangkabau sangat menjunjung tinggi  nilai-nilai kesamaan, sangat menjunjung tinggi etika dalam hubungan sosial. Penghormatan terhadap persamaan hak tersebut juga tergambar dalam; "Kok barek amo dipikua, kok ringan samo dijinjiang".

Nilai keterbukaan dan dan kesamaan lainnya dapat kita lihat dalam bidang kepemimpinan dan hukum. Seperti yang ditulis oleh Miswar Munir dalam tulisannya: Nilai-Nilai Pendidikan Dalam Pepatah Petitih Adat Minangkabau mengatakan; Egalisterianisme (keterbukaan dan kesamaan) dalam Minangkabau menurut pepatah, 'Duduak Samo Randah Tagak Samo Tinggi', mencerminkan kedudukan seorang pemimpin. Walaupun secara formal kedudukannya lebih tinggi, namun posisinya tidak terlalu berjarak dengan masyarakat. Seorang pemimpin tidak dapat memainkan peran sebagai raja, sultan atau kaisar, ia hanya diberi kedudukan sedikit lebih tinggi dari rakyat biasa, seperti cerminan dalam ungkapan: 'ditinggikan saranting, didaulukan salangkah'.

Bila kita cermati pendapat diatas, tentu ingatan kita kembali kepada pola kepemimpinan Bodi Caniago dan Pola Kepemimpinan Koto Piliang. Keduanya tidak terpisahkan dalam rangka membentuk daerah demokratis di negeri Minangkabau. Lambang demokrasi tersebut dapat kita lihat dari bangunan Balairung Bodi Caniago yang ada di belakang Museum Istano Basa Pagaruyung. Bangunan megah dan tentu mengandung nilai filosofi tinggi tersebut sekarang digunakan juga oleh beberapa komunitas untuk menyelenggarakan berbagai acara. 

Dilansir dari  RRI.co.id - Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Padang Dr. Hasanuddin, M.Si dalam dialognya di RRI mengatakan, Ada dua pola Sosio kultural yang mewarnai Sosio politik dan kultural masyarakat Minangkabau, berupa pola demokratis yang disebut Bodi Caniago dan pola aristokratis atau Koto Piliang. Dalam pola Bodi Caniago, pimpinan pimpinan tertinggi di tanah Minang adalah penghulu, namun dalam mengambil keputusan dilakukan secara musyawarah untuk mencapai mufakat. Dalam pola kepemimpinan ini, nyaris tidak ada yang memerintah dan diperintah, karena yang memerintah sesungguhnya bukanlah personal pemimpin tetapi kemufakatan.

Dalam ungkapan, 'Kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu, pangulu barajo ka mufakat, mufakat barajo ka nan Bana'.

Sedangkan dalam Pola aristokratis Koto Piliang, pimpinan tertinggi disebut Rajo atau Raja. Dalam pola ini musyawarah tetap menjadi dasar keputusan atau bijaksana, meski prosesnya bertingkat-tingkat. Disamping itu, seorang Rajo memeliki otoritas sehingga berwenang memberi perintah yang dikenal dengan titah atau, 'titiak nan datang dari ateh'.

Literasi ini lahir tatkala penulis duduk diatas Balerong yang tidak ada banduah (ditinggikan) dari ujung keujung bangunan, seperti Istano Basa Pagaruyung. Itulah dia Balerong rumah adat Bodi Caniago, yang berada di belakang Museum Istano Basa Pagaruyung. Rumah Gadang Bodi Caniago mengajarkan kepada kita bagaimana kesamaan hak dalam masyarakat. Masyarakat berhak mendapatkan persamaan dalam masalah hukum dan keadilan. Islampun mengajarkan persamaan dengan mengabaikan perbedaan, yang tercermin dalam ungkapan, "Duduak Samo Randah, Tagak Samo Tinggi". (**)

Tidak ada komentar

PT. Figur Anugrah Media Mengucapkan: Selamat datang di www.Figurnews.com, Terima kasih telah berkunjung.. Semoga anda senang! Tertanda Pemred: Yuamran Andre