Breaking News

 


Dokter Gina Alecia: Selain Cegah Covid-19, Masyarakat Pasbar Waspada TBC


Pasaman Barat, Figurnews.com-Tuberkulosis adalah penyakit infeksius yang menyerang paru-paru. Penyakit ini disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini juga sering disebut dengan TBC.

Faktanya, Indonesia adalah negara dengan kasus tuberkulosis terbesar kedua di dunia setelah India. Prognosis kesembuhan pasien yang mendapat pengobatan sangat baik. Namun, pada pasien yang tidak dirawat, TBC bisa mengancam jiwa.

 

dr. Gina Alecia
Kepala seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Dinkes Pasaman Barat

Penyakit TBC menular melalui udara, misalnya saat orang yang terinfeksi batuk atau bersin di dekat orang yang sehat. Orang yang berisiko tertular juga adalah orang yang tinggal serumah dengan pasien.

Untuk menyembuhkan penyakit TBC, pasien harus meminum antibiotik selama 6 bulan berturut-turut. Namun sayangnya, kasus resistensi bakteri pada kasus tuberkulosis terus meningkat. Ini membuat pengobatan mungkin dilakukan lebih lama atau mengombinasikan beberapa jenis obat.

Dibandingkan waktu penyembuhan virus Covid-19 isolasi tau karantina mandiri selama Lebih kurang 14 hari. Pasien TBC butuh waktu penyembuhan hingga 6 bulan.

Dari data Dinas Kesehatan Pasaman Barat, Sumbar mencatat jumlah penderita tuberkulosis (TBC) di Pasaman Barat terhitung semester satu 202 bulan Januari hingga akhir Juni mencapai 407 jiwa yang terpapar TBC.

Kepala seksi Pencegahan dan pengendalian penyakit menular Dinas Kesehatan Pasaman Barat, dokter Gina Alecia mengungkapkan pada semester satu sebanyak 407 jiwa dengan  sasaran 1333.

Sebaran pengidap TBC di Kecamatan Lembah Melintang sebanyak 45 jiwa. Terdiri dari 30 orang data Puskesmas Ujunggading, Puskesmas Ranah Salido terdata 15 orang. Puskesmas Sungai Aur sebanyak 45 orang , Puskesmas Parit kecamatan Koto Balingka terdata 22 orang , Puskesmas air Bangis Kecamatan Sungai beremas sebanyak 20. dan Puskesmas Ophir  terangkum 17 jiwa.


Dari data Puskesmas tersebut,  pengidap TBC tertinggi di Pasaman Barat dari 11 kecamatan  yang ada berada di wilayah Kecamatan Sungai Aur sebanyak 45 penderita, kemudian menyusul Kecamatan Lembah Melintang yakni sebanyak 45 penderita.

Meski dengan jumlah penderita yang sama, berdasarkan jumlah populasi di Kecamatan Sungai Aur lebih sedikit dari pada jumlah populasi penduduk di Kecamatan Lembah Melintang.

dr Gina Alecia menerangkan, penyakit menular yang menyerang saluran pernafasan itu dapat menginfeksi segala usia, mulai dari balita hingga lansia.

"Jumlah penderita TBC di Pasaman Barat tergolong tinggi di Sumatera Barat. Namun sejak COVID-19 terjadi penurunan penemuan kasus dan saat ini berada di posisi 6 besar. Penyakit ini bisa menyerang segala usia," terang dr Gina, Rabu (1/9/2021) di Kantor Dinkes Pasbar.

Menurutnya penyebaran penyakit ini disebarkan oleh penderita TBC yang belum terobati, sehingga kuman mikrobakterium tuberkulosis akan ditularkan tanpa disadari oleh penderita melalui batuk atau air ludah kepada orang disekitarnya.

Lanjut dokter Gina Alecia menjelaskan jika penderita ini sudah tertangani masa penyembuhan bisa mencapai 6 sampai 8 bulan baru bisa dikategorikan sembuh total. Sedangkan ciri - ciri pengidap TBC yakni mengalami batuk berdahak lebih dari 2 minggu, demam tidak tinggi, berat badan turun, keringat malam tanpa aktivitas dan sesak nafas.

Sedangkan berdasarkan pengelompokkan umur, penyakit TBC dapat menyerang usia di segala umur, akan tetapi yang paling banyak terserang penyakit pada pada usia produktif yakni dari 15 sampi 64 tahun.

Jika dipersentasekan pada pengelompokan umur, usia 0-14 tahun sebanyak 6,14 persen, usia 15-64 tahun sebanyak 54,79 persen dan lebih dari usia 65 tahun sebanyak 39,07 persen.

"Jadi hampir merata presentasinya mulai dari nol tahun sampai lansia. Tapi rata-rata penderita ini terserang di usia produktif berdasarkan data yang kita catat," ulasnya kembali.

Dokter Gina juga menyebut proses penularan TBC juga mirip dengan penularan COVID-19 yakni melalui droplet atau percikan ludah atau bersin 

"Antara TBC dan COVID-19 ini memang hampir mirip sama-sama penularannya lewat droplet infection, lalu juga sama-sama menyerang organ paru-paru, saluran pernafasan, kalenjar, saraf, kulit dan tulang," sebutnya.

Untuk itu, Gina menjelaskan upaya penanganan kasus TBC di Pasaman Barat dengan cara mendeteksi dini bagi orang yang pernah kontak erat dengan penderita TBC.

"Penanganan kasus TBC tetap kita prioritaskan di masa pandemi. Dengan deteksi dini temuan kasus TBC yang pernah kontak erat dengan penderita," jelasnya.

Selain itu kata dia, pihaknya juga menyosialisasikan upaya pencegahan layaknya protokol kesehatan COVID-19 seperti memakai masker, jaga jarak dan mencuci tangan pakai sabun.

"Kami sosialisasikan pencegahan seperti memakai masker dan meningkatkan daya tahan tubuh dengan makanan bergizi. Untuk itu dalam menangani COVID-19 kita tidak meninggalkan kasus TBC, karena kasusnya cukup tinggi," tutupnya.

Kabupaten Pasbar di posisi peringkat 6 besar penemuan kasus TBC di provinsi Sumbar. Terjadi penemuan penurunan kasus dari tahun lalu.

"Adanya angka data pengidap TBC berbanding lurus dengan aktifnya petugas menelusuri kasus TBC di masyarakat," ungkap Dokter Gina.

(Dodi Ifanda)


Tidak ada komentar

PT. Figur Anugrah Media Mengucapkan: Selamat datang di www.Figurnews.com, Terima kasih telah berkunjung.. Semoga anda senang! Tertanda Pemred: Yuamran Andre