Breaking News

 


"Bajanjang Naiak Batanggo Turun" Cerminan Demokrasi di Minangkabau

Foto Doc: Figurnews.com
Tangga Museum Istano Pagaruyung (Foto Doc: figurnews.com)


Oleh : HENDRI

Indahnya Demokrasi di Minangkabau dilambangkan dengan janjang. Setiap rumah gadang di Minangkabau selalu memiliki jenjang. Jenjang dalam bahasa lainnya adalah tangga, namun dalam filosofi Minangkabau antara jenjang dengan tangga sangat jauh bedanya. Kalau kita naik dari jenjang, dinamakan dengan Janjang. Tapi kalau kita turun dari jenjang dinamakan Tangga. Itulah filosofi dalam adat Minangkabau "Bajanjang Naiak Batanggo Turun". 

Sebelum naik tangga ke museum, ada sebuah batu besar dan lebar yang disebut dengan batu tapak. Batu tapak ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari jenjang museum. Sebelum naik ke dalam Istana, kita harus berhenti disini dengan mencuci kaki terlebih dahulu, karena zaman dahulu tidak mengenal sendal ataupun sepatu.

Dalam Artchive Indonesia Journal of Visual Art and Design ISI Padang Padang Volume 02 No.1 Juni 2021 hal.19 membagi tangga Museum istana ini dengan beberapa bagian:

Anak Janjang

Anak janjang Istano Basa Pagaruyung ada 11 buah. Keberadaan janjang melambangkan kedudukan dari empat kelarasan Koto Piliang dan empat dari kelarasan Bodi Caniago. Sedangkan Tiga lagi melambangkan kedudukan Rajo Nan Tigo Selo, yaitu: Rajo Adat, Rajo Ibadat dan Rajo Alam.

Tanggo

Tanggo adalah selembar kayu vertikal antara anak janjang ke anak janjang yang lebih rendah, ia mewakili kekuatan keputusan mufakat pada masing-masing tingkat mufakat yang disahkan dan diperkuat oleh keputusan pimpinan disetiap tingkat pemerintahan.

Tangan-Tangan Janjang

Tangan-tangan janjang mewakili dan melambangkan norma-norma dalam pelaksanaan demokrasi melalui mufakat, norma-norma tersebut harus dilandasi oleh langgam adat, Undang-Undang Luhak dan Agama Islam untuk mencapai hasil yang maksimal dan sekaligus untuk menghindari masyarakat dan kerajaan dari jurang kehancuran sebagai akibat hasil-hasil proses demokrasi yang tidak mengikuti norma-norma yang semestinya.

Koto piliang dan Bodi Caniago yang digambar melalui janjang, adalah dua kelarasan yang menganut demokrasi yang berbeda. Dikutip dari www.boyyendratamin.com, tulisan yang diplubikasikan dan ditulis oleh Amir Rasyid tentang Pengambilan Keputusan pada Masyarakat Minangkabau menjelaskan:

Di Minangkabau terdapat dua sistem yang berpengaruh terhadap politik pemerintahan adat. kedua sistem tersebut sudah sangat dikenal sekali, yaitu Bodi Caniago dan Koto Piliang. Bodi Caniago menerapkan sistem demokrasi dan Koto Piliang menerapkan sistem otokrasi. Selain mempengaruhi politik pemerintahan, kedua sistem ini juga mempengaruhi watak masyarakat minangkabau. Dalam sebuah ungkapan dijelaskan :

Pisang sikalek-kalek utan
Pisang batu nan bagatah
Bodi caniago inyo bukan
Koto piliang inyo antah

Berdasarkan ungkapan tersebut, didapati dua sistem kepemimpinan dan sekaligus merupakan sistem pemerintahan adat yang khas di minangkabau.

Demokrasi Bodi Caniago dapat disebut juga dengan demokrasi murni. Dimana demokrasi yang dipakai adalah demokrasi langsung. Seseorang yang disebut mamak langsung berhubungan dengan kemenakannya. Mamak, khususnya pangulu tidak memiliki tingkatan, atau memiliki kedudukan yang sama. Bodi caniago lebih mengutamakan musyawarah dan mufakat dalam segala permasalahan yang terjadi dalam kehidupan. Karena memang prinsipnya adalah musyawarah tersebut biasanya tidak ada permasalahan yang tidak dapat terselesaikan. Kalau dalam adat minangkabau biasanya disebut “indak ado kusuik nan indak salasai, indak ado karuah nan indak janiah”.

Sedangkan Koto Piliang di sebut juga dengan demokrasi tidak langsung. Dimana seorang mamak pangulu tidak langsung berhubungan dengan rakyatnya. Hal tersebut dikarenakan dalam aliran ini pangulu memiliki tingkatan-tingkatan. Tingkatan tersebut dimulai dari mamak tungganai, yang berhubungan dengan tingkat di atasnya yaitu pangulu andiko. Pangulu andiko berhubungan dengan tingkat di atasnya yang disebut dengan pangulu kaampek suku. Lalu pangulu kaampek suku ini berhubungan dengan pangulu pucuak. Pangulu pucuak adalah tingkatan yang paling atas dalam suatu nagari. Sistem ini dikenal juga dalam minangkabau dengan “bajanjang naik, batanggo turun”.

Filosofi dari “bajanjang naiak, batanggo turun” (berjenjang naik, Bertangga turun), “naiak dari janjang nan di bawah, turun dari janjang nan di ateh” (naik dari jenjang yang di bawah, turun dari jenjang yang di atas). Permasalahan diajukan dari bawah, dari anak kemenakan. Dari anak kemenakan diajukan kepada tingkat “tunganai”, diteruskan kepada tingkat penghulu andiko, dilanjutkan ke tingkat Penghulu Kaampek Suku, dan akhirnya sampai kepada Penghulu Pucuak. Keputusan diambil pada tingkat Penghulu Pucuak. Penghulu Pucuak menurunkan kembali keputusan itu melalui jalur yang sama, hingga anak kemenakan menerimanya.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan pada masyarakat hukum adat di Minangkabau baik dari kelarasan Bodi Caniago maupun Koto Piliang  mempunyai ciri khas tersendiri, dimana ada beberapa tahapan yang harus dilalui dalam pengengambilan keputusan berdasarkan musyawarah mufakat, dimana masing-masing pihak mempunyai peran dan tanggung-jawab berdasarkan tugas dan fungsinya di masyarakat, dan dibenarkan untuk berbeda pendapat, permasalahan diselesaikan berdasarkan kepatutan dan keputusan yang diambil merupakan suara bulat sehingga dapat dilaksanakan.

Nah, begitu pulalah dalam penyelesaian Masalah hukum yang terjadi saat ini, baik itu perdata maupun pidana. Kita di larang main hakim sendiri. Ada proses yang harus dilalui dalam menyelesaikan suatu masalah yang berkaitan dengan hukum. Mulai dari Kepolisian, kejaksaan sampai kepada pengadilan (untuk pidana). Itulah yang disebut " Bajanjang Naiak Batanggo Turun". (**)

Tidak ada komentar

PT. Figur Anugrah Media Mengucapkan: Selamat datang di www.Figurnews.com, Terima kasih telah berkunjung.. Semoga anda senang! Tertanda Pemred: Yuamran Andre