Breaking News

 


Perantau di Bosua Ini Optimalkan Perkarangan Jadi Tempat Bertanam

 

Foto: Abdul Hafiz Perantau asal Mandailing ini saat mengecek tanaman mentimun di perkarangan rumahnya. Kamis, (19/08/2021).

MENTAWAI. FN- Sejak masuknya wabah Coronavirus Disease (COVID-19) di Kabupaten Kepulauan Mentawai pada bulan April tahun 2020 lalu, Kapal menuju wilayah Sao, Desa Bosua tidak beroperasi lagi. Akibatnya, Warga setempat sulit mendapatkan pasokan bahan dapur. 

Hal itu dirasakan, Abdul Hafiz (36) Warga Setempat bahwa sejak masa Pandemi COVID-19 ini kebutuhan dapur sulit diperoleh. Kondisi itu memaksa ia mesti berpikir dalam mencari solusi. Sehingga timbul rencana membuat tanaman di perkarangan rumah. 

"Awalnya lihat-lihat informasi di Youtobe, dengan judul memanfaatkan lahan sempit untuk bertanam, jadi kita coba lakukan itu disini," ujarnya saat ditemui figurnews.com dikediamannya. Sao, Desa Bosua, Kecamatan Sipora Selatan, Mentawai. Kamis, (19/08/2021). 

Abdul mengatakan, tantangan pertama diawal percobaan adalah sulitnya mencari tanah yang cocok untuk polibek. Mencari tanah subur ia harus menuju kedataran tinggi atau sekitar 2 Km dari kediamannya. 

Selanjutnya setelah tanah diperoleh, ia mencampur tanah itu dengan pupuk organik. Kemudian ditata serapi mungkin dihalaman rumahnya tersebut. 

Terdapat sebanyak 130 Polibek di tanah seluas 10 kali 15 pada perkarangan rumah bapak dua orang anak itu. Dari jumlah 130 polibek itu terdapat 40 polibek tanaman cabe dan mentimun 90 polibek. Ditambah tanaman lain seperti jeruk nipis dan tanaman terong. 

"Bibit jeruk nipis itu kita peroleh dari hasil cangkokkan, kelebihannya cepat berbuah," sebut perantau asal Mandailing, Provinsi Sumatera Utara itu. 

Ia menjelaskan, selain aman, tanaman di perkarangan rumah ini juga mudah dirawat. Pasalnya, bila tanaman sayur-sayuran jauh dari pemungkiman tidak dapat dijaga dengan baik. 

Untuk kesulitan penanaman sendiri lanjutnya lebih mudah di lahan perkebunan. Alasannya, dia tidak perlu repot membuat tempat polibek. "Kalau dilahan sendiri kita tinggal bikin bedengan, lalu ditanam, lalu perkembangan tanaman sendiri jauh lebih baik," terang Abdul. 

Bertanam di perkarangan rumah itu telah dilakoninya selama satu tahun lebih atau sejak awal wabah COVID-19 masuk di Kepulauan Mentawai. 

"Kita di daerah terpencil ini memang sulit mendapatkan bahan dapur, apalagi cabe sulit sekali, adapun harganya mahal," paparnya. 

Diketahui sejak awal masuknya wabah COVID-19 di Kepulauan Mentawai, Pemerintah Kabupaten sempat memperlakukan karantina wilayah. Akibatnya, kapal ke Sao atau Desa Bosua berhenti beroperasi. Hal itu dilakukan agar tidak terjadinya penyebaran COVID-19 ke wilayah tersebut. (ev)

Tidak ada komentar

PT. Figur Anugrah Media Mengucapkan: Selamat datang di www.Figurnews.com, Terima kasih telah berkunjung.. Semoga anda senang! Tertanda Pemred: Yuamran Andre