Breaking News

loading...

Prof Abraham Eliazer Tobing Nilai Tanah di Mentawai


MENTAWAI, Figurnews.com

Tanah sebagai tempat bercococok tanam menjadi dasar bagi pertumbuhan jenis tanaman di setiap daerah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Salah satunya, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat. 

Menurut Profesor Abraham Eliazer Tobing bahwa tanah di Kepulauan Mentawai tidak berbeda dengan Kepulauan Sumatera. Hanya saja memiliki perbedaan unsur hara terkandung dalam tanah tersebut.

"Sumatera ini adalah sabuk lingkar atau sabuk gunung api, tentunya sabuk gunung api ini pasti subur, karena banyak terkandung unsur haranya, bukan berarti di Mentawai tanahnya tidak subur," ungkapnya saat di wawancarai awak media usai penen bersama padi organik di Desa Sidomakmur, Kecamatan Sipora Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Senin, (23/02/2021).

Ia menambahkan dengan begitu bukan berarti tanah di Mentawai tidak subur. Permasalahan itu hanya karena kandungan asam tanah. Maka petani mesti mencari solusi untuk itu. Artinya, tidak ada alasan untuk tidak bercocok tanam. 

"Jadi setiap masalah pasti ada solusi, jadi formulasi mikrobiotik tidak bisa diterapkan di setiap tanaman, seperti tanaman keras dan tidak keras," terang Profesor Abraham itu.

Abraham mengatakan, ada beberapa pendapat bahwa tanah di Mentawai jenis gambut. Gambut itu disebabkan adanya kandungan aluminium seperti besi dan sulfur. 

Untuk menghilangi kandungan aluminium tersebut, Petani mesti lepaskan unsur itu dengan cara metode mikroba atau pupuk. 

Ia mengibaratkan mikroba itu seperti juru masak tanaman ada konsumen. "Sedehana saja analoginya, apabila mikroba melarutkan zat besi dan sulfur ke bawah tanah, maka yang tinggal diatas unsur normal saja," imbuhnya.

Tanah gambut lanjutnya merupakan tanah telah terbentuk dari jutaan tahun dan mengandung unsur hara tunggi. Tetapi tidak di pakai karena unsur asam tadi. 

Selain itu penyaluran air ke sawah disebutnya, perlu ketelitian untuk menentukan jalur irigasi. Hal itu dilakukan guna air dapat mengalir keseluruh sawah.

Kemudian juga perlu menentukan titik tengah irigasi itu agar tidak kelebihan air bahkan kekurangan air. 

Dikatakan kebutuhan air pada padi disetiap fase seperti pratanam sampai panen sangat dibutuhkan. 

"Negara kita ini negara agraris, maka kita majulah dengan agraria, kalau disebut nenek monyang kita pelaut saya tidak setuju tetapi nenek monyang kita adalah petani," papar Profesor Abaraham itu. (ev)

Tidak ada komentar

PT. Figur Anugrah Media Mengucapkan: Selamat datang di www.Figurnews.com, Terima kasih telah berkunjung.. Semoga anda senang! Tertanda Pemred: Yuamran Andre