Breaking News

Nasib Motor Keranjang di Sipora Selatan

Foto: Alvon Penjual kelapa bulat menggunakan motor keranjang di Sagitsi barat

MENTAWAI. FN- Pasca ambruknya Jembatan Desa Nemnem Leleu, Kecamatan Sipora Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai beberapa minggu lalu menjadi persoalan baru bagi sejumlah warga setempat, khususnya pedagang. 

Pasalnya, Jembatan Nemnem Leleu sebagai jalur penghubung tiga desa yakni, Desa Bosua, Beriulou dan Desa Betumonga di Kecamatan Sipora selatan itu kini tidak bisa dilalui mobil lagi. Tentunya, mobil pembawa sembako maupun mobil pembeli hasil pertanian warga setempat tidak aktif lagi. 

"Biasanya kita bawa kelapa bulat dari batang kelapa menggunakan motor hanya sampai rumah saja, lalu dijemput sama agen ke rumah, tapi karena jembatan rusak kita harus antar sampai Sioban," ungkap Alvon (25) salah satu Warga Sagitsi barat, Desa Nemnem Leleu.

Biasanya, kelapa dapat dibeli agen kelapa langsung ditempat. Jumlah dibawa mobil sebanyak 1 ton per trip. 

"Sejak jembatan rusak kelapa tidak bisa diambil agen langsung dengan mobil, sehingga kita membawa kelapa menggunakan keranjang motor dengan jumlah 2 karung per trip, sedangkan dalam satu karung kita hanya bisa bawa kelapa 50 buah," tambahnya.

Usaha penjualan kelapa bulat saat ini banyak dilakoni beberapa Warga setempat. Kini tidak masuknya mobil menjadi persoalan baru. Tidak itu saja, kebutuhan sembako di tiga desa ini juga menjadi persoalan.

Hal itu juga diakui Irwansyah (38) Pedagang Warga Mongan Bosua, Desa Bosua bahwa kebutuhan sembako dan akses jalan mesti seimbang. Apalagi saat ini kapal antar pulau ke Sao tidak aktif lagi.

"Memang mobil saya dulu sempat jalan, namun karena jalan di Logpond dulu rusak, mobil gak jalan lagi, karena mesin mobil saya tidak kuat dengan kondisi dan medan jalan disini," ujarnya.

Maka dengan kondisi jalan dan jembatan saat ini, banyak mobil terjebak di Desa Bosua dan Beriulou. Kini rata-rata Pedagang berbelanja menggunakan motor keranjang.

"Sejak robohnya jembatan dan hanya bisa dilalui kendaraan roda dua dan tiga, Beli bensi juga susah disini, karena mobil pengantar bensin gk jalan," ungkap Linus (23) Warga Mongan Bosua, Desa Bosua.

Sementara itu salah satu Distributor Kelapa Bulat Warga Tuapejat, Andi (40) mengatakan, Jembatan merupakan akses paling penting dalam perputaran ekonomi masyarakat. 

"Masyarakat menjual kita membeli, sehingga kelapa bernilai jual, ini mestinya jadi perhatian bersama, dalam upaya peningkatan ekonomi Masyarakat," sebut Distributor kelapa bulat mobilnya terperangkap di Nemnem Leleu itu. 

Kepala Desa Nemnem Leleu, Balsanus mengatakan, biaya pengerjaan jembatan roboh ini merupakan partisipasi Masyarakat dan Perusahaan Proyek di Sioban. 

"Jembatan ini hanya untuk kendaraan roda dua dan tiga, inilah yang sanggup kita kerjakan, kalau ada mobil terperangkap disini sebelumnya kami tidak tahu," ujarnya.

Jalur jembatan di Desa Nemnem Leleu saat ini bukanlah jalan perdesaan. Tentunya Pemerintah setempat tidak dapat mendanai pengerjaan jembatan tersebut. 

"Kita berharap ada solusi dari Pemerintah kabupaten, provinsi maupun pusat terkait persoalan ini, karena masyarakat sudah bergantung terhadap mobil disini," terang Balsanus. (ev)

Tidak ada komentar

PT. Figur Anugrah Media Mengucapkan: Selamat datang di www.Figurnews.com, Terima kasih telah berkunjung.. Semoga anda senang! Tertanda Pemred: Yuamran Andre