Breaking News

loading...

Iriadi dan Agus Syahdeman Kuda Hitam Dalam Pilkada Kabupaten Solok 2020


Solok, Figurnews.com

Iriadi dan Agus Syahdeman secara alami menjadi kuda hitam yang berlari kencang di Pilkada Kabupaten Solok 2020. Berbagai kelebihan dari paduan birokrat senior dan politisi kawakan tersebut, membuat mereka memenangkan kontestasi Pilkada. Berikut alasan-alasan Iriadi Dt Tumanggung-Agus Syahdeman memenangkan Pilkada Kabupaten Solok 2020.

Pertama, Iriadi Dt Tumanggung menggebrak kontestasi Pilkada Kabupaten Solok 2020 dengan sangat elegan. Pengalamannya selama 34 tahun di birokrasi Pemprov Sumatera Selatan, menjadi modal berharga untuk menarik simpati masyarakat. Hal itu ditunjang dengan keberadaan Agus Syahdeman sebagai politisi kawakan di Kabupaten Solok. Pemerintahan adalah birokrasi, maka sejatinya dipimpin oleh seorang birokrat. Lalu, pemerintahan dilaksanakan secara bersama oleh eksekutif dan legislatif, maka komposisi Iriadi-Agus Syahdeman adalah satu-satunya pasangan yang merupakan paduan dua latar belakang, eksekutif dan legislatif.

Kedua, Iriadi-Agus Syahdeman mengusung terobosan baru dengan program unggulan, anggaran Rp500 juta perjorong setiap tahun. Program ini sempat menjadi "cemoohan" bagi kandidat, tim pemenangan, relawan dan simpatisan calon lain. Terutama tentang dari mana dan bagaimana proses penggunaan dana tersebut. Sebab, APBD Kabupaten Solok "hanya" Rp1,2 triliun dan pendapatan asli daerah (PAD) hanya Rp74 miliar, dengan belanja daerah hampir 70 persen untuk belanja.

Namun, Iriadi dan Agus Syahdeman, berhasil menjelaskan bahwa anggaran Rp500 juta perjorong pertahun tersebut adalah improvisasi dari APBD Kabupaten Solok agar pembangunan merata. Terobosan anggaran dan pembangunan berbasis jorong ini, sangat masuk logika, karena dari 403 jorong yang ada di Kabupaten Solok, dana yang dibutuhkan "hanya" Rp201,5 miliar. Tapi efek yang akan dirasakan, seluruh jorong akan mendapatkan anggaran yang merata. Sehingga, jargon "Solok Bangkit", akan sangat rasional dicapai, karena pembangunan berbasis pada tingkatan terendah, yakni tingkat jorong. 

Iriadi-Agus Syahdeman juga menjelaskan bahwa terobosan seperti ini, memang akan banyak diragukan oleh pihak-pihak yang tidak memahami dan berfikiran negatif. Namun, Iriadi dan Agus Syahdeman berhasil menjelaskan ke masyarakat, bahwa pendanaan Rp500 juta perjorong pertahun, tidak akan mengganggu anggaran daerah. Sebab, menurut mereka, banyak dana dari tingkat pusat dan provinsi yang bisa diraih, dengan program-program kemasyarakatan. 


Ketiga, Iriadi Dt Tumanggung dan Agus Syahdeman, memiliki kedekatan yang "sangat khusus" dengan Bapaslon Independen, Hendra Saputra-Mahyuzil Rahmat. Iriadi dan Hendra Saputra memiliki kedekatan emosional, karena sama-sama berasal dari pemerintahan (birokrat). Sementara, Agus Syahdeman dan Mahyuzil Rahmat, sama-sama berasal dari Gunung Talang. Sehingga, ibarat pepatah; Rasok Aie ka Aie, Rasok Minyak ka Minyak (kecendrungan kepada hal yang sama), suara independen yang lebih dari 48.000, akan lebih banyak ke Paslon Iriadi Dt Tumanggung dan Agus Syahdeman.


Keempat, Iriadi sebagai birokrasi senior dan Agus Syahdeman sebagai politisi yang telah berkiprah lama di Kabupaten Solok, membuat para aparatur sipil negara (ASN) di Pemkab Solok akan "berpihak" kepada mereka. Sebab, dari keduanya, para pegawai akan mendapatkan kenyamanan dalam bekerja. Ditambah lagi dalam tiga Pilkada Kabupaten Solok sebelumnya, bupati terpilih selalu berasal dari Birokrat. Yakni, pada 2005 dimenangkan Gusmal, 2010 oleh Syamsu Rahim, dan 2015 oleh Gusmal. Harus diakui, "suara" dari ASN Pemkab Solok sangat "menentukan" hasil Pilkada. 


Kelima, Iriadi dan Agus Syahdeman berasal dari wilayah tengah Kabupaten Solok dengan jumlah penduduk paling ramai. Hampir 100 ribu pemilih dari 280 ribu pemilih Kabupaten Solok berasal wilayah tengah. Iriadi adalah sosok niniak mamak di Nagari Selayo, Kecamatan Kubung, sementara, Agus Syahdeman adalah sosok milenial dengan gelar Angku Imam Bandaro, yang merupakan elemen agama. Sehingga sesuai dengan falsafah Minangkabau, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. 


Keenam, Iriadi Dt Tumanggung dan Agus Syahdeman tidak memiliki beban di Pilkada Kabupaten Solok 2020. Kehidupan keduanya terbilang sangat mapan. Sehingga, apapun hasilnya, baik Iriadi maupun Agus Syahdeman, akan nyaman memimpin Kabupaten Solok periode mendatang. Iriadi bahkan telah menegaskan, jika nanti terpilih, dirinya tidak akan mengambil gaji dan tunjangan. Bahkan hingga fasilitas dinas. Sehingga, komitmennya untuk mengabdi ke Kabupaten Solok benar-benar akan bisa dibuktikan. 


Komitmen pengabdian Iriadi dan Agus Syahdeman, sempat diuji, dengan tidak "diloloskan" oleh KPU dan Bawaslu mengikuti Pilkada, dengan alasan kesehatan. Namun, hal itu justru menjadi "promosi" gratis bagi keduanya untuk dikenal lebih dalam oleh masyarakat. Sehingga, keduanya bisa "membuktikan" mampu memimpin Kabupaten Solok dan memiliki fisik yang sehat. Dibuktikan dengan mengikuti seluruh proses kampanye dan turun ke masyarakat secara langsung. Sehingga, masyarakat secara tak sadar, sangat bersimpati kepada keduanya. Bahkan, timbul kekuatan massa untuk membela orang yang dizalimi.


BACA JUGA :Boris-Adang Blusukan ke Pasaraya Solok

Ketujuh, Iriadi memiliki jaringan yang kuat di level nadional dan provinsi. Hal itu sangat dibutuhkan Kabupaten Solok, sebagai salah satu daerah yang pendapatannya sangat rendah. Kedekatan tersebut, didapat Iriadi saat menjadi birokrat di Pemprov Sumsel. Baik itu dengan kementerian, maupun dari jalur politik. 


Sekilas Iriadi Dt Tumanggung

Nama Iriadi Dt Tumanggung, menggebrak bursa Pilkada Kabupaten Solok 2020, sebagai salah satu kandidat terkuat menduduki kursi Bupati Solok 2021-2024. Jauh-jauh hari, nama Iriadi sudah menjadi pembicaraan, khususnya di Nagari Selayo, Kecamatan Kubung. Kiprahnya sebagai birokrat senior dan disegani di Pemprov Sumsel, ternyata juga berdengung hingga ke Kabupaten Solok. Layaknya warga Minangkabau yang suka merantau, keinginan pulang kampung dan berbakti di tanah kelahiran, membuat Iriadi menegaskan niat menjadi bakal calon Bupati Solok.

Kurun waktu 34 tahun bukan waktu yang singkat untuk pengabdian Iriadi Dt Tumanggung sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Sumatera Selatan. Berbagai jabatan strategis pernah diembannya mulai dari Kacabdin Pertanian Pasang Surut Kabupaten Musi Banyuasin, Kabag Pemerintahan Kantor Pembantu Gubernur Sumsel Wilayah 1 Musi Banyuasin, Sekretaris KPU Kabupaten Musi Banyuasin selama 11 tahun, Kepala Hubla Biro Penghubung Pemerintah Provinsi Sumsel di Jakarta, Kepala Samsat Musi Banyuasin, Kepala Samsat Kota Palembang dan terakhir saat ini masih menjabat Kepala Sekretariat Badan Pengawas Pemilu Provinsi Sumatera Selatan.

Bahkan, saat menjabat Sekretaris Bawaslu Sumsel, Iriadi bahkan merangkap sebagai Kepala Samsat Sumsel. Saat itu, Iriadi mampu memberikan pemasukan asli daerah (PAD) bagi Sumsel sebesar Rp 150 miliar perbulan. Salah satunya, dengan pendekatan khusus terhadap pengusaha kapal motor di sungai musi, sebelumnya tak bayar pajak, akhirnya bayar pajak. 

Iriadi Dt Tumanggung lahir di Selayo pada 11 November 1962. Alumni Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya, Palembang ini, dipercaya Gubernur Sumsel Herman Deru sebagai Kepala Sekretariat Bawaslu Sumsel. Kinerja dan kedekatannya dengan Gubernur Sumsel sebelumnya, Alex Nurdin, membuat Iriadi Dt Manggung dipercaya memimpin jabatan-jabatan strategis di Pemprov Sumsel.

Menjadi kandidat unggulan di bursa Pilkada Kabupaten Solok 2020, Iriadi dikenal sebagai sosok pekerja keras yang sukses dalam "kompetisi hidup" di tanah rantau. Pengalamannya di Sumsel, membuatnya dianggap sebagai figur yang mampu dan layak menggantikan Bupati Solok saat ini, Gusmal Dt Rajo Lelo. Apalagi dalam berbagai jabatan terakhir Iriadi banyak berkecimpung dalam tugas kepemiluan yang menuntut integritas tinggi.

Pandangan Bupati Solok, Gusmal Dt Rajo Lelo. Yang mana Ir. Iriadi Dt Tumanggung dalam pandangan Bupati Solok, Gusmal Dt Rajo Lelo merupakan birokrat senior di Sumatera Selatan. Hubungan Gusmal dan Iriadi terbina secara alami karena banyak kesamaan, di antaranya sama-sama merupakan figur niniak mamak dan berlatar belakang birokrat. Ibarat pepatah rasok aie ka aie, rasok minyak ka minyak (keberpihakan ke latar belakang yang sama), Gusmal secara alamiah "berharap" ke Iriadi. Apalagi, sejarah Bupati Solok sejak pemilihan langsung tahun 2005, selalu dimenangkan oleh sosok berlatar belakang birokrat. Adagium pemerintahan adalah birokrasi, yang seharusnya dipimpin oleh seorang birokrat, membuat namanya sangat diperhitungkan di Pilkada Kabupaten Solok 2020. 

"Karier birokrasi dan karier bisnis Iriadi Tumanggung yang sangat sukses. Hal ini membuat berbagai elemen masyarakat mengharapkannya mampu membawa kesuksesan yang sama di kampung halamannya sendiri, Kabupaten Solok. Iriadi Dt Tumanggung menjadi satu-satunya mantan birokrat yang menjadi kontestan di Pilkada Kabupaten Solok 2020," ujarnya. 

Agus Syahdeman, bagi Gusmal adalah sosok politisi muda Kabupaten Solok yang sangat supel dan mudah bergaul dengan siapa saja. Di Pilkada, Agus Syahdeman sebelumnya pernah maju di 2015. Pada Pileg 2019 lalu, Agus Syahdeman maju sebagai calon Anggota DPRD Sumbar. Meski kalah tipis dari Irzal Ilyas, Agus Syahdeman menjadi Caleg DPRD Sumbar yang meraih suara tertinggi se-Kabupaten Solok. 

"Uncu (panggilan Agus Syahdeman), adalah sosok politisi muda yang dekat dengan masyarakat. Penampilannya yang supel dan mudah bergaul, menjadi kelebihannya. Uncu tidak pernah menempatkan dirinya sebagai elit politik. Sesuatu yang sangat disukai oleh masyarakat, terutama kalangan emak-emak dan pemilih milenial," ujarnya. (Ayu)

Tidak ada komentar

PT. Figur Anugrah Media Mengucapkan: Selamat datang di www.Figurnews.com, Terima kasih telah berkunjung.. Semoga anda senang! Tertanda Pemred: Yuamran Andre