Breaking News

Pasca Tsunami 2010, Saat Ini 35 Anak Panti Asuhan Kaum Mentawai Telah Kuliah dan Bekerja

Foto: Panti Asuhan Kasih Abadi Untuk Mentawai

MENTAWAI. FN- Pasca tsunami melanda kepulauan Mentawai pada 25 Oktober 2010 lalu, Yayasan Kasih Abadi Untuk Mentawai (Kaum) telah melepas 35 anak dari panti. Sebanyak 35 anak itu dilepas setelah meyelesaikan pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). 

Menurut Ketua Panti Asuhan Kaum, Jefri S Kayai pasca tsunami 10 tahun dulu, Lembaga Gerakan Kemanusian Indonesia (GKI) mulai melakukan gerakan mendata anak-anak korban tsunami. 

Relawan GKI itu mengumpulkan sebanyak 87 orang anak yatim dan piatu korban tsunami hingga pada 18 Januari 2012 dibawa ke panti asuhan Kaum. 

Sehingga pada tahun 2020 ini lanjut Jefri, terdapat 35 anak telah dilepas untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah tinggi di Tarutung, Jawa barat, jawa tengah dan Jakarta. Sebanyak 35 orang itu terbagi dari 32 orang tengah menjalani pendidikan kuliah, tamat kuliah 3 orang dan bekerja 1 orang.

Sebelumnya, Panti Asuhan Kaum terbentuk dari Gabungan Relawan GKI

Pada tahun 2007, relawan gerakan kemanusian Indonesia (GKI) masuk ke kecamatan Sikakap, Mentawai. GKI masuk untuk membangun beberapa asrama di Mentawai antara lain, Asrama Putri di Muara Siberut dan Asrama di Km-01, Tuapejat (Sekarang Kaum). 

"Rencana Awal Setelah asrama dibangun kita serahkan ke GKPM Seperti Asrama di Muara Siberut, Asrama di Tuapejat Selesai pengerjaan pada bulan agustus 2010, namun pada 25 oktober 2010 terjadi tsunami di Pagai selatan, Sehingga di alih fungsi menjadi panti asuhan" ujar Jefri.

Maka waktu itu Relawan GKI terlibat dalam penanganan tsunami selama 1 tahun. Keterlibatan untuk membuat posko di lokasi terdampak parah tsunami diantaranya, kecamatan Pagai selatan.

Maka atas kejadian itu sebut Jefri timbul berbagai ide dan gagasan dari beberapa Relawan GKI untuk keberlangsungan anak yatim dan piatu korban tsunami.

"Ide itu bukan hanya untuk anak korban tsunami saja tetapi juga untuk anak yang punya orang tua tetapi mereka tidak sekolah dampak dari tsunami, jadi kita berpikir saat itu untuk menyelamatkan pendidikan mereka," sebut Jefri.

GKI saat itu tergabung dari 13 Lembaga Relawan kemanusian untuk korban tsunami diantaranya Gereja Kristen Indonesia, Gereja Setia, Lemuel dan Yayasan Penabur. Selanjutnya bergabung membuat yayasan Kaum.

"Untuk membuat panti asuhan mesti berbadan hukum, salah satunya membuat yayasan Kaum, dimana saat itu saya tinggal di pagai selatan di Km-37, maka kita mendata anak-anak korban tsunami untuk di sekolahkan di Tuepejat," imbuhnya.

Selanjutnya, Jefri S Kayai melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan Mentawai di Tuapejat terkait solusi bagi anak korban tsunami dan anak putus sekolah itu. Sehingga Dinas Pendidikan Mentawai merekomendasikan 87 anak itu untuk melanjutkan pendidikan di tingkat SD, SMP dan SMA.

"Waktu itu asrama yang di bangun GKI dan di peruntukan untuk asrama GKPM dialih fungsikan menjadi panti asuhan KAUM melalui kesepakatan iman untuk bersama sama melayani anak anak korban tsunami, waktu itu panti tidak mampu menampung karena kapasitasnya hanya 60 orang, tetapi kita kondisikan saja agar muat," ujarnya.

Berbagai Proses Dilalui Yayasan Panti Asuhan Kaum Mentawai

Tepatnya pada 18 Januari 2012, panti asuhan Kaum melalui gabungan relawan GKI hadir di Jl. Raya Km-01, Desa Tuapejat, Kecamatan Sipora Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Di Lokasi milik GKPM yang telah bersama sama bersepakat untuk melayani anak anak korban tsunami melalui kontrak iman menjadi panti Kaum dengan batas waktu 20 Tahun .

Tim GKI berupaya memberi pelayanan kesejahteraan sosial pada anak anak korban tsunami lewat didirikannya LKSA panti asuhan KAUM. Melalui itu kehadiran Panti asuhan Kaum memberikan pembinaan melalui belajar Formal maupun Non Formal. Kegiatan non Formal Seperti Kepemimpinan, Studi terpimpin, Kerohanian dan Rekreasi menjadikan anak berjiwa kepemimpinan, kerohanian, dan pelajar. "Terdapat lima orang pengasuh disini, 3 orang pengasuh untuk anak perempuan dan 2 pengasuh untuk anak laki-laki," sebut Jefri.

Menurutnya setelah 2 tahun anak korban tsunami itu diasuh, traumatik dimasing-masing anak masih membekas. Pasalnya keberadaan asrama di perbukitan 1 km dari bibir pantai membuat suara ombak ditengah malam jelas terdengar dan membuat mereka kaget dan ketakutan.

Harapan Ketua Panti Yayasan Kaum terhadap Keluarga Anak

Kendala dialami anak asuh Jefri S Kayai ini adalah ketika anak-anak meminta izin pulang kampung. Disini terjadi perubahan prilaku anak ketika balik lagi ke panti.

"Terkadang makanan mereka tidak terkontrol disana, karena mereka bebas bermain, lalu saat balik kesini kami merasa ada perubahan prilaku sifat dan sikap anak tersebut," ungkapnya.

Bagi dia kedisplinan merupakan hal paling utama. Contohnya saja, disisi kesehatan anak-anak mesti makan 3 kali sehari. Selanjutnya, anak-anak di panti mesti mengikuti jadwal pola hidup teratur. Sehingga tercipta karakter anak yang baik.

Sekilas tentang Jefri S Kayai

Jefri S Kayai merupakan Putra asli Papua yang putus Kuliah di Jakarta pada tahun 2007. Putusnya kuliah akibat keterbatasan ekonomi.

"Dulu saya ingin jadi tentara tetapi ayah saya yang juga seorang Tentara dikampung tidak bolehkan, lalu saya pergi kuliah ke Jakarta," ungkapnya.

Kemudian Jefri menjadi relawan Tim GKI pada tahun 2004. "Meski saya kerja dijalanan untuk kuliah, tetapi saya aktif sebagai  pemuda di Gereja, sehingga saya diminta menjadi relawan Tim GKI untuk Mentawai pada tahun 2007," 

Selanjutnya, pada tahun 2014 Jefri menikahi Putri Masabuk, Kecamatan Sikakap, Mentawai berdarah batak. 

"Pada tahun 2012 itu, saya sudah merasakan dan menjiwai Mentawai sehingga saya nyaman disini hingga saya menikah dan punya anak," tutup Jefri S Kayai Ketua Panti Asuhan Kaum itu. (ev)

Tidak ada komentar

PT. Figur Anugrah Media Mengucapkan: Selamat datang di www.Figurnews.com, Terima kasih telah berkunjung.. Semoga anda senang! Tertanda Pemred: Yuamran Andre