Breaking News

loading...

Catatan Petani: Tahun 1982 hingga 2013 tak Ada Padi di Nemnem Leleu

Foto: Ketua Kelompok Tani Gapoktan Simabolak Nemnem Leleu, Damsar 

MENTAWAI. FN- Awal perjalanan Kelompok Tani di Desa Nem-nem Leleu, Kecamatan Sipora Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai sejak tahun 2013 hingga 2020 ini menjadikan kelompok terus berkembang.

Tahun 2013 kala itu, Damsar (40) berkeinginan membuka kembali lahan persawahan yang telah sekian lama ditinggal para orang tua dahulu. 

"Kami membuka kembali sawah sekira 1 hektar yang telah lama ditinggal orang tua kami dahulu, kala itu sekira tahun 1982an, waktu itu saya masih kecil," ungkap Damsar (40) Ketua Kelompok Tani Gapoktan Simabolak di rumah kelompoknya. Senin, (19/10/2020).

Setelah Damsar dan Warga lain membuka kembali tanah persawahan lama ditinggal itu pada tahun 2013 dia bersama teman-temannya, mencoba membentuk kelompok tersebut pada tahun 2014. Dimana kala itu bertepatan adanya bantuan alat pertanian seperti heler, traktor, cangkul dan bibit padi. Maka kelompoknya mengajukan proposal dan selanjutnya di setujui.

"Sejak dibukanya persawahan itu, kita bersama secara swadaya menanam padi. Hal hasil pemerintah mulai melirik hingga mendapatkan bantuan pada tahun 2014 tersebut," tambahnya.

Kelompok Tani Gapoktan Simabolak terdiri dari 6 kelompok dengan jumlah 92 orang tersebar di dua lokasi yakni di dusun Nemnem Leleu selatan 82 dan 10 orang di dusun Sagitsi barat, Desa Nemnem Leleu dengan luas lahan 15 hektar.

Maka pada tahun 2020 atau di masa Pandemi Covid-19 ini, pihaknya menerima bantuan berupa pupuk dan bibit padi Cisokan bibit unggul dari Kabupaten Padang Pariaman sekaligus pengelolaannya melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Sumatra Barat. "Sebelum menerima bantuan itu, kita diberikan bimtek tentang pengelolaan sawah di Tuapejat," ujarnya. 

Namun sebelumnya kelompok tani tersebut pernah tidak aktif selama dua tahun pada tahun 2017 hingga 2018. Pasalnya kemarau panjang melanda waktu itu, ditambah dengan tidak adanya irigasi pada persawahan tersebut.

Meski demikian diakuinya Kelompok ini dapat menghasilkan beras 3 ton per hektar. Jika dikulkulasikan menghasilkan uang sebanyak Rp39 juta per hektar. Beras itu dapat memenuhi kebutuhan kelompok sehari-hari dan biaya anak mereka sekolah maupun kuliah.

Untuk pemasaran sendiri dikatakannya, dibantu Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Warung nasi di Sioban dan pembelian dari masyarakat luar wilayah desa. 

"Kita menjual beras ini Rp12 ribu per kilogram, pembelinya banyak ada dari masyarakat luar dan juga ada dari kedai nasi sioban," terang Damsar.

Lima kelompok itu tersebar di 15 hektar lahan sawah terbagi 18 orang yakni kelompok Arepikam seluas 4 hektar, 15 orang kelompok Kateu Baga per 4 hektar, 17 orang kelompok Alaki per 2 hektar, 15 orang kelompok Rop Ake per 3 hektar dan 18 orang kelompok Taro Ake per 2 hektar. 

"Jadi gapoktan simabolak itu adalah induk dari lima kelompok disini," tutup Damsar. (ev)

Tidak ada komentar

PT. Figur Anugrah Media Mengucapkan: Selamat datang di www.Figurnews.com, Terima kasih telah berkunjung.. Semoga anda senang! Tertanda Pemred: Yuamran Andre