Breaking News

QUO VADIS PASAMAN BARAT?

                                                                   Oleh : Altas Maulana


Pasaman Barat (Sumbar), Figurnews.com
Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) serentak bakal berlangsung 9 Desember 2020. Sejumlah bakal calon pemimpin daerah yang dikenal dengan motto "Tuah Basamo" itu sudah bermunculan.

Diperkirakan ada sekitar lima pasang calon bupati dan wakil bupati akan bertarung merebut hati rakyat yang dikenal dengan"nagari petro dollar" itu.

Rakyatpun mulai bisa menilai mana bakal calon pemimpin mereka yang benar-benar mampumemajukan daerah dan meningkatkan kesejahtetaan. Tidak hanya jargon membangun. Membangun untuk apa?

Bolehlah, dalam rangka merebut hati rakyat seuber slogan terpampang di baliho, spanduk bahkan kekartu nama. Namun rakyat perlu berpikir apa konsep membangun itu sebenarnya?.

Lantas mau dibawa kemana Pasaman Barat ini atau "quo vadis Pasaman Barat"?. Diusia 16 tahun lebih ini kalau boleh jujur Pasaman Barat masih jauh tertinggal dengan kabupaten/kota lainnya di Sumbar.

Membangun Pasaman Barat tidak cukup sebatas slogan saja. Sangat tak elok jika terpilih nanti slogan membangun itu hanya lapuk sendirinya. Sibuk dengan bagi-bagi kekuasaan tim sukses dan terkesan tersandra dengan bisikan tanpa tau apa yang akan dilakukan.

Quo vadis Pasaman Barat? Mulai saat ini rakyat harus mampu melihat dan membedah konsep berpikir para bakal calon pemimpin mereka. Diakui konsep kadang tinggal konsep saja dan berbeda dari kenyataan.

Namun, rakyat Pasbar mula hari ini harus mampu menjadi pemilih rasional. Jangan tergoda dengan uang recehan pembujuk untuk mencoblos di 9 Desember 2020.

Lihat visi misinya bakal calon itu. Apa konsep berfikir yang rasional dan mungkin dilakukan lima tahun kedepan.

Sah-sah saja di baliho saat ini semua bakal calon berlomba membuat jargon untuk merayu hati rakyat.

Suka tidak suka, kondisi hari ini Pasaman Barat jauh dari kemajuan. Segi pendidikan boleh dilihat peringkat berapa Pasaman Barat pada UN terakhir. Kalau tidak salah ada diperingkat bawah.

Ibarat klasemen di liga sepakbola, Pasaman Barat merupakan penghuni papan bawah meskipun tidak nomor paling buncit tetapi berkisar dua atau tiga dari bawah.

Memang itu tidak mutlak ukuran keberhasilan dunia pendidikan meskipun banyak juga siswa Pasaman Barat yang lulus di Perguruan Tinggi ternama.

Namun hal itu menggambarkan ada yang salah dalam dunia pendidikan Pasbar saat ini.

Segi sarana prasarana jalan dan jembatan yang menghubungkan satu daerah kedaerah lain boleh dikatakan saat ini jauh dari kata layak.

Sebut saja jalan ke Maligi, Sikilang, Rura Patontang, Tombang Talu dan daerah lainnya. Apakah masyarakat sudah menikmati aspal atau rabat beton. Belum!.

Banyak aksi demonstrasi, surat permohonan bahkan sudah masuk dalam Musyawarah Perencanaa Pembangunan. Namun tahun ketahun masyarakat tetap menikmati lumpur dan abu jalan membuat daerah itu masih tertinggal bahkan terisolir.

Belum lagi kita bicara ekonomi, SDM, sektor pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata, perkotaan dan sektor lainnya.

Jauh tertinggal memang. Padahal Pasbar memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah. Namun tidak atau belum terkelola dengan baik.

Saat ini kita dihadapkan dengan baliho para bakal calon pemimpin Pasaman Barat lengkap dengan jargon dengan foto yang gagah.

Masing-masing kandidat mulai merayu rakyat dengan jargon dan foto senyumnya. Saya mencoba membedah sedikit latar belakang atau background kandidat.

Pasangan Agus Susanto- Rommy Chandra membuat sejarah baru dalam perpolitikan Pasbar. Pasangan ini mampu lolos verifikasi faktual KPU Pasbar melalui jalur perseorangan. Dengan slogan jargon "bersama merajut perbedaan".

Agus Susanto dikenal seorang politikus yang merangkak dari bawah dan kenyang pengalaman. Pernah menjadi anggota DPRD Pasbar, anggota DPRD Provinsi Sumbar dan terakhir anggota DPR RI.

Bermodal itulah beliau maju menjadi bakal calon bupati Pasbar menggandeng Rommy Chandra yang backgroundnya seorang anggota Polri dan pernah menjadi ajudan almarhum Bupati Pasbar Syahiran.

Dengan mengusung jargon bersama merajut perbedaan mereka maju jalur perseorangan yang katanya maju, didukung dan membangun bersama rakyat.

Kandidat kedua Hamsuardi- Risnawanto. Pasangan ini mengusung jargon "santun berpengalaman".

Hamsuardi berlatar berlatang belakang pamong senior yang kenyang pengalaman di dunia pemerintahan. Terakhir sebelum pensiun ia menjabat sebagai Kepala Dinas Pemuda Olahraga Pemkab Pasbar.

Dikenal dekat dengan semua kalangan masyarakat. Pria sederhana ini dikenal santun dan mudah akrab dengan siapapun.

Beliau pernah maju pada Pilkada 2015 dan calon anggota DPR RI 2019 lalu. Hamsuardi yang akrab dipanggil si Ham ini berpasangam dengan Risnawanto.

Risnawanto seorang politisi PDIP yang pernah menjabat Wakil Bupati Pasbar periode 2005-2010. Pernah menjadi anggota DPRD Pasbar. Dengan pengalamannya itulah pasangan ini mengusung jargon santun dan berpengalaman.

Kandidat selanjutnya Yulianto-Syafrial. Yulianto merupakan seorang petahana saat ini. Selain pernah menjadi anggota DPRD Pasbar, ia juga pernah manjadi Wakil Bupati Pasbar mendampingi Syahiran yang meninggal dunia. Ia naik secara otomatis naik menjadi Bupati Pasbar saat ini.

Menggandeng Syafrial yang juga pernah menjadi Walinagari Kinali dengan mengusung jargon "bersama bersatu membangun Pasbar".

Kemudian muncul kandidat pasangan Maryanto-Yulisman. Maryanto berlatar belakang seorang bankir yang cukup dikenal saat Pasbar masih belum mekar dari kabupaten induk Pasaman.

Ia memantapkan maju untuk mengabdi di Pasbar dengan mengusung Yulisman seorang insinyur yang juga berpengalaman di legislatif. Pernah menjadi anggota DPRD Pasbar. Pasangan ini mengusung jargon "Insyallah bisa.  Pasbar maju, berprestasi dan bermartabat".

Kandidat terakhir adalah Erick Hariyona-Syawal Suro. Erick berlatar belakang pengusaha optimis mampu membangun Pasbar dengan jargon "energi baru Pasbar" bersama Syawal Suro yang latar belakang seorang ustadz yang kenyang pengalaman di Kemenag Pasbar.

Lima pasangan inilah yang sudah hampir final maju pada Pilkad Pasbar 2020 sebelum ditetapkan sebagai calon oleh KPU Pasbar.

Cukupkah dengan background, foto dan jargon?tentu tidak. Disinilah perlunya analisa, kecermatan dan "inok-inokan" mana kandidat yang benar-benar mampu memajukan Pasbar kedepannya.

Sekarang kita tidak bisa melihat kandidat mana yang memiliki visi misi untuk membangun Pasbar kedepannya. Tidak cukup dengan jargon satu kalimat. Tidak bisa dengam senyuman.

Diperlukan dan patut diketahui apa visi misi yang akan dijalankan. Apa rencana kerja seandainya terpilih.

Kalau perlu yakinkan masyarakat dengan target pembangunan 100 hari kerja pertama atau satu tahun pertama. Rakyat berhak menuntut apa yang dilakukan pemimpinnya.

Jangan hendaknya kepentingan pribadi berbalut kepentingan rakyat. Rakyat bisa menilai mana kandidat yang akan memajukan daerah.

Terpenting sekali dalam menentukan pilihan jangan ada permusuhan. "Laki-bini bacakak", abang adek tonjok-tonjokan, hubungan keluarga terbelah.

Mari berkompetisi sehat. Pilkada badunsanak. Jangan hanya siap menang tapi tidak siap kalah. Berikan pendidikan politik sehat kepada rakyat.

Mumpung masih ada waktu sebelum 9 Desember 2020. "Inok-inok an bana". Lihat visi misinya yang logis dan masuk akal.

Rakyat bisa menilai mana pemimpin yang layak. Mau dibawa kemana Pasbar kedepan. Apakah makin maju, berjalan ditempat atau malah mundur? Quo Vadis Pasaman Barat? Wallahualam.

Dodi Ifanda

No comments

PT. Figur Anugrah Media Mengucapkan: Selamat datang di www.Figurnews.com, Terima kasih telah berkunjung.. Semoga anda senang! Tertanda Pemred: Yuamran Andre