Breaking News

GAGAL BLOKIR JALAN, RIKI GUGAT PT. BSS, Rp. 216 M

Selama lebih kurang 4 (Empat) tahun Tanah milik orang tuanya dikuasai tanpa ada kontribusi, bahkan dalam Peta Ukur Bidang Tanah A.N,Rasani, tanda tangan Rasani diduga Palsu. Berdasarkan hal itu, RIDO RIANDHIKA AHTIALA menyebutkan, IMB PT. BSS sedang dalam pengurusan. Benarkah Polres Agam gagal memahami maksud dan tujuan Riki, blokir jalan. Adakah hukum akan tegak, kita lihat perjalananya. Bagaimana dengan IMB, mungkinkah itu akan jadi prioritas untuk jadi bahan penyelidikan...?. Jangan berkedok Investasi, hukum bungkam...?.

Lubuk Basung, Figurnews.Com 

Empat tahun beroperasi, PT. Bukit Sawit Semesta (BSS) diduga tidak mengantongi izin. Hal itu terungkap dari ucapan Rido Riandhika Ahtiala, di kantor Camat Lubuk Basung dihadapan Muspika, saat terjadi mediasi antara PT. BSS dengan Riki Saputra ( 17/7) lalu.

Menjawab pertanyaan Figurnews.com, Riki Saputra (24/7). Tanpa tedeng aling-aling, semua terungkap. Katanya, “Kejadian itu di Kantor Camat Lubuk Basung, tanggal 17 Juli 2020, ketika pak Camat menjembatani untuk diadakan mediasi antara saya (Riki) dengan PT. BSS. Waktu itu, pak camat bertanya pada wakil perusahaan, sudah adakah IMB perusahaan. Perwakilan Perusahaan, Rido Riandhika Ahtiala menjawab, belum mempunyai IMB, sedang dalam proses Pengurusan”.

Riki juga menjelaskan tentang tujuan mengapa dirinya blokir jalan menuju pabrik PT. BSS. Menurutnya, blokir jalan dilakukan karena tanah orang tuanya seluas 11.864 M2 selama lebih kurang 4 (Empat) tahun dikuasai oleh PT. BSS, tanpa ada kontribusi dalam bentuk apapun.

“Tanah orang tua saya berdasarkan Peta Bidang Tanah, hasil ukur yang dilakukan PT. BSS, bersama salah satu anggota Tim Pembebasan lahan masyarakat yang disebut TIM 6,  luas tanah Rasani keseluruhan, 17.108 M2. Dijual pada NG TIE KIONG seluas 5.244 M2. Seharusnya, setelah dijual, kelebihan tanah tersebut seluas 11.864 M2 dikembalikan ke pada orang tua saya (RASANI). Namun sampai saat ini, tanah tersebut tidak dikembalikan dan dikuasai oleh perusahaan”. Ujarnya.


Sekaitan dengan Notaris yang mengesahkan Surat Pengikatan Perjanjian jual beli antara NG TIE KIONG dan Rasani, Riki memaparkan. Masih pada tempat yang sama, di Kantor Camat Lubuk Basung (17/7), Suardi, SH, MKn, menjawab pertanyaan camat, dia mengatakan bahwa dirinya (Suardi-Red) menerima berkas yang sudah siap.

“Ketika pak Camat bertanya pada pak Suardi, adakah pak Suardi turun langsung ke lapangan ketika akan membuat akta Pengikatan Perjanjian jual beli, antara NG TIE Kiong dan Rasani. Waktu itu pak Suardi menjawab, dengan gagap, dan pak Suardi bilang, saya membuat akta berdasarkan peta yang diberikan.sudah siap”. Papar Riki.

Menurut Riki, gagalnya blokir jalan utama menuju pabrik PT. BSS, bukan karena Riki takut dengan Polisi yang banyak datang kelokasi yang mau di blokir. Tapi karena adanya kesalah pahaman Polres Agam dalam menyikapi maksud dan tujuan Riki melalui Surat-surat yang sudah dilayangkan, ke berbagai pihak.

“Saya akui, blokir jalan menuju PT. BSS gagal saya lakukan. Tapi disinilah kita membuktikan bahwa hukum belum tegak dan berpihak kepada kebenaran. Yang saya tuntut, kembalikan tanah orang tua saya selua 11.864 M2, yang dikuasai PT. BSS, 4 (Empat) tahun terakhir. Tapi Polres berpikiran lain,  bahwa menurut Polres saya memblokir jalan karena tanah orang tua saya telah sah dijual ke Perusahaan”.

“Perlu mereka tahu (Polres-Red), kami keluarga Rasani tidak pernah memungkiri bahwa orang tua kami telah mejual tanah pada NG TIE KIONG. Tapi perlu juga dicatat, bahwa Rasani mejual tanah itu hanya 5.244 M2. Saat ini, dari 17.108 M2 tanah milik Rasani, dikuasai seluruhnya oleh perusahaan. Kalau perusahaan jujur, tolong buktikan kepada kami anak-anak Rasani, dimana letak tanah Rasani yang di jual pada NG TIE KIONg, seluas 5.244 M2. Dan tunjukan kepada kami, dimana kelebihan tanah yang dijual 11.864 M2. Jadi jangan main tuduh kami salah, lihat sisi lainnya adakah NG TIE KIONG dalam hal ini ikut bersalah”. Jelas Riki berapi-api.

“Melihat kenyataan itu, saya menilai Polres Agam tidak memahami apa yang saya maksudkan kalau tidak bisa dikatakan Polres Agam Gagal Paham dengan maksud saya. Saya memblokir jalan menuju pabrik PT. BSS, karena saya menuntut untuk dikembalikan tanah orang tua saya 11.864 M2, yang dikuasai PT. BSS selama 4 tahun terakhir, beserta kontribusinya. Jadi saya melakukan itu bukan asal blokir. Jangan karena Investasi masyarakat dirugikan. ”. Ujar Riki.

“Negara kita itu negara hukum, bukan yang salah dibela dan yang benar disalahkan. Selama 4 tahun PT. BSS beroperasi, IMB nya mana. Rido bilang dikantor camat, IMB dalam Proses, sedang diurus. Apakah itu bukan kesalahan. Tolong proses, jangan saya menuntut tanah orang tua saya, saya yang disalahkan”. Ucap Riki tegas.

“Pertanyaan saya, siapa yang dirugikan dan diuntungkan dalam masalah ini. Rasani atau NG TIE KIONG. Tolong Polres Agam berikan jawaban sejujurnya”. Ucap Riki mempertanyakan.

“Polres Agam menyarankan saya untuk melakukan upaya hukum, dan itu sudah saya lakukan. Saya ajukan gugatan perdata, dengan tuntutan Rp. 216 M. Kita tunggu, kepada siapa hukum akan perpihak, kepada orang-orang kecil seperti kami atau pada Perusahaan yang Nota Bene orang kaya. Dan kita lihat pula, adakah IMB PT. BSS yang sedang diurus namun pabriknya bisa berdiri akan dijadikan Prioritas penegakan hukum atau tidak”. Ujar Riki Tegas.

Sebaliknya, Rasani pada Figur News.Com, (25/7) dirumahnya di Lubuk Panji  menjelaskan, bahwa dalam penandatanganan Surat Pengikatan Perjanjian Jual beli,  yang hadir di Kantor Notaris saat itu, tidak ada NG TIE KIONG. Bahkan anaknya (Almaison-Red) yang mendampingi ke Notaris berada diluar ruangan, karena tidak diperkenankan masuk.

“Saya tidak tahu, mengapa saya dibawa ke Notaris. Waktu itu saya disuruh menandatangani surat, saya tidak tahu surat apa itu. Karena saya tidak pandai tulis baca, Saya minta mereka membacakan isi surat itu, tapi tidak ada yang mau membacakannya. Akhirnya surat itu saya tanda tangani, dengan saya tidak tahu apa isinya. Sampai saat ini, saya belum tahu isi surat itu. Ketika Riki (Anak Rasani –Red), memberitahukan Surat yang didapat dari Notaris, dan dijelaskan apa isinya, saat itulah saya tahu bahwa surat yang saya tandatangani dulu, merupakan surat jual beli”. Uja Rasani.

Menjawab siapa-siapa saja yang hadir dihadapan Notaris, pada saat penandatanganan Akta Pengikatan  Perjanjian Jual beli antara NG TIE KIONG dengan Rasani, di Kantor Notaris Suardi, SH, MKn, Rasani mengatakan, bahwa yang hadir dan dikenal siapa orangnya salah satu orang tersebut, Rido Riandhika Ahtiala.

“Saya tidak ingat lagi siapa orang-orang yang hadir dalam penandatanganan itu. Pastinya ada 5 orang, yaitu pak Notarisr, Rido dan ayah Rido, saya, Si Al (ALMAISON-Red), berada diluar. Dia tidak boleh masuk dan dia tidak tahu kalau saya menandatangani surat”. Tuturnya.

Tentang NG TIE KIONG, hadir atau tidak ketika penandatangan Surat Pengikatan Perjajian Jual Beli, Rasani tidak bisa memberi keterangan. Karena selain Rasani tidak kenal dengan NG TIE KIONG, orang yang hadir dihadapan Notaris Suardi, hanya orang-orang yang disebutkan Rasani diatas.

“Saya tidak tahu dan tidak kenal  NG TIE KIONG. Dia hadir di hadapan Notaris atau tidak saya juga tidak tahu. Jadi saya tidak tahu orangnya (NG TIE KIONG-Red) hadir atau tidak. Yang saya ingat, semua yang hadir sudah saya sebutkan”. Ungkap Rasani mengakiri penjelaskan.

Disisi lain, Ketua Pembebasan lahan masyarakat untuk mendirikan pabrik PT. BSS, yang lebih dikenal dengan sebutan TIM 6, Dasman, dikediamannya di Sikabu (24/7) menjelaskan, bahwa posisi pabrik bukan pada tempat pelatakan batu pertama. Ujarnya, “Peletakan batu pertama pembangunan pabrik Kelapa Sawit PT. BSS dilakukan oleh Bupati Agam. Lokasi pembangunan pabrik semulanya di Lapangan Bola di Tepi Sungai Batang Antokan didepan Surau Lubuk Panji. Namun saat ini, pabrik tidak berdiri pada tempat semula dimana batu pertama diletakan, melainkan pabrik dibangun di Bukit Pandan Musang atau di Lolong Lakuak Bolah yang berjarak lebih kurang 2 Km dari tempat batu pertama diasang”.

Sehubungan dengan pembebasan tanah Rasani, Dasman menjelaskan bahwa berdasarkan Peta Ukur Bidang Tanah A.N Rasani, luasnya 17.108 M2. Sedangkan yang dijual 5.244 M2. Katanya, “Tanah Rasani luas berdasarkan Peta Ukur Bidang Tanah A.N RASANI, keseluruhan 17.108 M2, yang dijual ke PT. BSS, seluas 5.244 M2. Jadi masih ada kelebihan tanah Rasani yang tidak di jual ke PT. BSS, seluas 11.864 M2. Tanah itu musti dierahkan pada Rasani, karena itu haknya”.

“Sehubungan dengan tanda tangan saya yang terdapat dalam Peta Ukur Bidang Tanah A.N RASANI, saya tidak pernah menandatangani. Hal itu saya pertimbangkan akan saya lanjutkan ke ranah hukum atau tidak, kita lihat nanti”. Ujar  Ketua TIM 6, Dasman. 

Di Tempat Kejadian Perkara (TKP), dimana Riki berencana memblokir jalan menuju pabrik PT. BSS, (22/7), Kasat Reskrim Polres Agam, AKP Fahrel Haris, SH, dengan berapi-api menjelaskan pada keluarga Rasani. Namun penjelasan itu tampaknya tidak ada Relevansinya dengan maksud Riki memblokir jalan.

Dalam penjelasannya pada keluarga Rasani, Kasat Reskrim, menyebut-nyebut tentang Sporadik dan ninik mamak. Perlu diketahui, dalam Pengesahan Surat Pengikatan Perjanjian Jual Beli, yang disahkan Notaris Suardi, SH, MKn, disebutkan adanya Ranji Keturunan dari JAI, Surat Kesepakatan Persetujuan Kaum,  Surat Pernyataan Penguasaan Fisik Bidang Tanah dan Surat Keterangan yang dikeluarkan Wali Nagari Managgopoh. Ke empat surat tersebut tertanggal 6 Maret 2015 dan yakin bahwa salah satu Surat ditandatangani Ninik Mamak atau Datuknya.  

Apakah berdasarkan 4 (Empat) surat tersebut diatas, bukan merupakan bukti, bahwa Rasani memiliki tanah yang dijadikan jalan oleh PT. BSS. Kita yakin, pembaca akan berpendapat sama, bahwa Rasani adalah pemilik tanah dimaksud. Lalu bagaimana dengan penjelasan Kasat Reskrim Polres Agam, Fakrel Haris, SH, MH,  nyambung atau tidak nyambung?.

Bagaimana pula dengan IMB, seperti yang dikatakan Rido dalam pertemuan dikantor Camat Lubuk Basung (17/7), bahwa IMB sedang dalam Proses pengurusan?. Apakah untuk kepentingan orang banyak, Rasani dan anak-anaknya harus legowo menerima tanahnya dikuasai PT. BSS?. (Tim FIGURNEWS.Com).      


No comments

PT. Figur Anugrah Media Mengucapkan: Selamat datang di www.Figurnews.com, Terima kasih telah berkunjung.. Semoga anda senang! Tertanda Pemred: Yuamran Andre