Breaking News

BERPERKARA PAKAI RP. 370 JUTA UANG MASJID, DT AREN TETAP KALAH?.

                        
Syahril DT. Tamandaro         Ir. Yulisman

Allah Subhanawataala, mungkin sedang menunjukan kepada masyarakat Kapunduang, siapa DT Aren yang sebenarnya. Diduga  hanya karena iri melihat Damri Rang Tuo Adat, Kapunduang mengelola kebun Kelapa Sawit Exs PT. INKUD AGRITAMA di Kapunduang Bawah, dirinya rela berhadapan dengan cucu kemenakannya. Tidak tanggung-tanggung,  SAT BRIMOB POLDA SUMBAR, dijadikan alat. Alasan yang digunakan, untuk memberantas preman. Namun kenapa uang pembangunan Masjid yang digunakan. Benarkah warga masyarakat Kapunduang terdiri dari kumpulan para preman?.
   

Kinali, FIGURNEWS.Com

Menghadapi Damri, Orang Tuo Adat Kapunduang, Jorong Bandua Balai, Nagari Kinali, Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat dalam berperkara perdata, di Pengadilan Negeri Pasaman Barat, Sumatera Barat,  Syahril DT Tanmandaro (DT AREN) diduga, menghalalkan segala cara, Masak mentah dalam perjuangan dilakukan, Kawan maupun lawan tak sejalan di terjang, Tidak ketinggalan, Rp. 370 juta uang pembangunan Masjid Raya Kapunduang, jadi sasaran, Sehingga pembangunan masjid terabaikan. Kenyataan itu menunjukan bahwa DT Aren diduga mempunyai Iman yang  tipis, sampai-sampai uang umat disikat untuk dijadikan alat, benar-benar orang jahat?.


Perkara yang berlangsung 8 (delapan) tahun silam itu, tak kunjung menemui titik terang. Bahkan makin meruncing setelah Syahril DT Tanmandaro mendatangkan Satuan Brimob Polda Sumatera Barat, untuk menduduki lahan bersengketa, Exs kebun Inti PT. INKUGD AGRITAMA, di Kapunduang Bawah, Jorong Bandua Balai, Nagari Kinali, Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat.

Anehnya, SAT BRIMOB POLDA SUMBAR, ketika mengeksekusi kebun Kelapa sawit Exs Kebun Inti PT. INKUD AGRITAMA yang dikuasai masyarakat Kapunduang, berbekal Surat Perintah Tugas dari DAN SAT BRIMOB POLDA SUMBAR, dengan isi perintah memberantas Premanisme di Kapunduang. Selain itu, kedatangan SAT BRIMOB POLDA SUMBAR menjual jual nama PT. ARPEK yang nota benenya diduga milik Anggota DPR RI dari Partai PAN, Asli Khaidir. Tugas apa yang diemban SAT BRIMOB dimaksud, memberantas Peman atau meng Eksekusi lahan?.

Berikut keterangan beberapa pihak sehubungan uang pembangunan Masjid Raya Kapunduang di pakai Ninik Mamak, Syahril DT Tanmandaro, untuk berperkara dengan Damri Rang Tuo Adat. Ketua Koperasi Sawit Kapunduang Bawah (KSKB), Ir. Yulisman, MM mengatakan, sehubungan dengan jual beli kebun kelompok sawit di Rimbo Panjang seluas 16 Ha,  tidak dapat memberikan keterangan dengan rinci. Ir. Yulisman melalui hubungan Hand Phone (21/6/2020) menyarankan untuk menemui H Sapar, sebagai penerima uang hasil penjualan.

Katanya, “Yang menerima uang bukan saya. Yang menerima uang salah seorang pengurus Masjid. Berapa yang diserahkan untuk Masjid saya tidak tahu. Kalau yang diserahkan untuk Ketua Kelompok saya tahu, Rp. 1 juta per orang. Secara administrasi saya terlibat karena saya Ketua Koperasi. Namun untuk klarifikasi saya cenderung menyarankan untuk menemui orang yang menerima uang, hasil penjualan kebun itu, H. Sapar”.

Dipihak lain, Ketua Kelompok III, H. Syahrul mengatakan bahwa memang benar telah terjadi kesepkatan antar Ketua Kelompok kebun Kelapa sawit yang bernaung dibawah Koperasi Sawit Kapunduang Bawah (KSKB) Kinali Pasaman Barat Sumatera Barat, untuk menjual kebun kelapa sawit seluas lebih kurang 16 ha. Tujuan dari penjualan kebun tersebut untuk membiayai Pembangunan Masjid Raya Kapunduang.

Melaui hubungan hand Phone (21/6/2020), Syahrul mengatakan,  “Memang benar telah terjadi kesepakatan 7 (Tujuh) orang Ketua Kelompok kebun Kelapa sawit yang bernaung dibawah Koperasi Sawit Kapunduang Bawah (KSKB) Kinali Pasaman Barat, untuk menjual kebun kelapa sawit di Rimbo Panjang, seluas lebih kurang 16 ha. Tujuan dari penjualan kebun tersebut untuk membiayai Pembangunan Masjid Raya Kapunduang”.

“Informasinya uang hasil penjualan sebagian sudah diserahkan pada panitia pembangunan melalui rekening pembangunan Masjid. Namun berapa nominal saya tidak tahu. Berapa harga jualpun saya juga tidak tahu. Saat itu ketua Koperasi Ir Yulisman, dan Koperasi saat ini tidak aktif lagi. Untuk kebun Kelompok masih berjalan dengan baik dan dikelola masyarakat”. Tuturnya.

Sehubungan dengan uang hasil penjualan kebun kelapa sawit seluas 16 Ha tersebut, H. Sahrul menolak jika dikatakan bahwa dirinya menerima uang hasil penjualan kebun kelapa sawit, sebesar Rp. 1 juta. Katanya, “Saya tidak menerima uang dalam bentuk apapun dari hasil penjualan kebun untuk pembangunan masjid Raya Kapunduang. Semestinya, untuk pembangunan Masjid, kita itu menambah bukan malah mengurang, karena itu uang umat’. Ucapnya mengakhiri pembicaraan.

Sebaliknya Sekretaris Pembangunan Masjid Raya Kapunduang, Joni Ansori, melalui hubungan Hand Phone,(21/6/2020) menerangkan, “Uangnya sebagian sudah diserahkan, sebesar Rp. 400 juta. Uang tersebut diserahkan melalui Rekening Masjid. Diketahui bahwa uang sudah dikirim melalui Rekening Masjid, dari Orang Tuo Sumando, Sapar”.

“Dalam pembangunan Masjid, orang Tuo Sumando, Sapar sebagai seksi dana. Untuk penjualan kebun, Orang Tuo Sumando, Sapar sebagai orang yang mencari pembeli. Harga jual kebun tersebut Rp. 770.000.000”. Ungkapnya.

“Dalam pertemuan Pemuda beberapa waktu lalu (Tidak ingat hari dan tanggalnya-Red), Rang Tuo Sumando Sapar mengatakan, bahwa uang hasil penjualan kebun kelapa sawit, selebihnya dipakai oleh mamak yaitu Syahril DT Tanmandaro. Untuk apa uang itu dipakai Mak Datuak, Rang Tuo Sumando, Sapar tidak menjelaskannya. Dari hasil uang penjualan kebun Kelapa Sawit yang digunakan untuk Pembangnan masjid yang diserahkan hanya Rp. 400 juta dan untuk selebihnya sebesar Rp. 370 juta, belum diserahkan karena masih dipakai mak datuak (Syahril DT Tanmandaro -Red”. Pungkasnya mengakhiri.

Sebaliknya, Rang Tuo Sumando, Sapar, menerangkan bahwa  uang hasil penjualan kebun kelapa sawit sebanyak Rp. 370 juta di pinjam Syahril DT Tanmandaro. Adapun uang dari hasil penjualan kebun kelapa sawit tersebut jumlahnya berkisar Rp. 700 -800 juta, dengan harga per Hektar nya sebesar Rp. 75 juta. Uang tersebut dipinjam Syahril DT Tanmandaro guna untuk membiayai perkara dengan Damri Rang Tuo Adat. Melalui hubungan Hand Phone (21/6/2020), Rang Tuo Sumando, Sapar, mengatakan, “Dalam surat, kebun kelapa sawit yang dijual untuk pembangunan Masjid Raya Kapunduang, seluas 16 Ha, namun yang ditemukan dalam penjualan hanya 10,5 Ha, dengan harga rata-rata Rp. 75 juta/Ha. Jadi uang yang diterima berkisar dari Rp. 700 s/d Rp. 800 juta”.

“Uang hasil penjualan  kebun itu semula direncanakan digunakan untuk menyelesaiakan pembangunan Masjid Raya Kapunduang. Rp. 400 juta sudah diserahkan dan sisanya lebih kurang Rp. 300 juta di pinjam oleh Ir. Yulisman sebagai Ketua Koperasi dan Sy DT Tanmandaro sebagai Ninik Mamak. Uang tersebut dipinjam untuk menghadapi Rang Tuo Adat Kapunduang dalam berperkara di Pengadilan” Ungkapnya.

“Uang hasil penjualan kebun untuk pembangunan Masjid Raya Kapunduang, yang dipinjam Syahril DT Tanmandaro, sampai saat ini belum di kembalikan. Selain perkara belum selesai, BRIMOB butuh biaya dan yang mebiayai makan dan ngopi BRIMOB adalah mamak Syahril DT Tanmandaro . Karenanya uang tersebut belum bisa dikembalikan”. Ujarnya.

Sapar juga menjelaskan, “Mengapa uang tersebut dipinjam oleh mak Datuak, karena Mak datuak berfikir bahwa menyelesaikan perkara dengan Rang Tuo Adat itu lebih penting. Karena biaya untuk berperkara dengan Rang Tuo Adat tidak ada, makanya dipinjam uang untuk pembangunan Masjid. Kenapa Mak Datuak mendatangkan BRIMOB untuk dijadikan tenaga pengaman, ya karena Mak Datuak Pikir dirinya (Syahril DT Tanmandaro-Red) tidak mungkin menghadapi masyarakat sendiri makanya dipakai tenaga Brimob untuk dijadikan tenaga pengamanan”.

Selanjutnya, “Uang penjualan kebun Kelapa Sawit yang akan digunakan untuk Pembangunan Masjid Raya Kapunduang memang sudah lunas dibayarkan oleh pembeli, Rosmayetti. Namun saat ini uang tersebut sebagiannya masih dipinjam Syahril DT Tanmandaro untuk membiayai perkara. Mak Datuak berjanji akan mengembalikan uang tersebut nanti setelah perkara sudah selesai dan aman. Dari penjualan kebun tersebut uangnya tidak semuanya diserahkan ke Masjid, tetapi ada yang diserahkan pada  Ketua Kelompok. Dari 7 (Tujuh) orang ketua kelompok, yang tidak menerima uang hasil penjualan kebun sebesar Rp. 1 juta, Syahrul dan Jasman”.

Dari rentetan hasil Konfirmasi diatas, dikutip dari penjelasan Ketua Kelompok III, Syahrul, bahwa kita seharusnya menambah uang untuk pembangunan masjid bukan malah mengurang karena itu uang umat. Namun sebaliknya, untuk Syahril DT Tanmandaro hal itu sepertinya tidak berlaku, terbukti kurang lebih Rp. 370 juta, uang hasil penjualan kebun kelapa sawit di Rimbo Panjang yang diperuntukan bagi pembangunan Masjid   Raya Kapunduang, dipakai untuk berperkara menghadapi Damri Rang Tuo Adat. Artinya, dapat di indikasikan bahwa pemakaian uang pembangunan masjid Raya Kapunduang oleh Syahril DT Tanmandaro untuk kepentingan pribadi.

Hal itu dapat dibuktikan, Exs kebun Inti PT. INKUD AGRITAMA, sebelumnya dikuasai masyarakat dan masyarakat pada tanggal 30 Januari 2020 diusir dari lokasi kebun dimaksud. HALALKAH UPAYA SYAHRIL DATUAK TANMANDARO MEREBUT EXS KEBUN INTI PT. IKUD AGRITAMA DARI MASYARAKATNYA DENGAN MENGGUNAKAN UANG PEMBANGUNAN MASJID RAYA KAPUNDUANG?.  WALLAHUALAM. (FN.006)
  




No comments

PT. Figur Anugrah Media Mengucapkan: Selamat datang di www.Figurnews.com, Terima kasih telah berkunjung.. Semoga anda senang! Tertanda Pemred: Yuamran Andre