Breaking News

Suku Anak Dalam dan Petani Jambi Jalan Kaki Temui Presiden Jokowi , Transit Di Desa Pinang Banjar.

PINANG BANJAR MUBA (Sumsel),FN - Rombongan  aksi massa Suku Anak Dalam (SAD)  asal Jambi ini  transit (Istirahat) di Balai Desa Pinang Banjar, Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Muba  Senin ( 30/9/2019) tampak  ibu-ibu terampil memasak dan membungkus nasi dengan lauk seadanya. Setelah selesai, nasi di  bungkus tersebut langsung dibagikan kepada rombongan peserta aksi jalan kaki dari Jambi menuju ke Istana Jakarta untuk menemui Presiden Joko Widodo.

Dari Pantauan  awak media ,Sarapan pagi di Balai Desa Pinang Banjar dimulai dengan lahap dan habis sarapan pagi mereka sejenak menggelar briefing  Senin(30/9/ 2019).

Setelah briefing kecil, puluhan Suku Anak Dalam (SAD) dan petani yang transit (istirahat) di balai Desa Pinang Banjar, Kecamatan sungai Lilin  langsung bergerak melanjutkan perjalanan ke Jakarta  dari halaman  Balai Desa Pinang Banjar. Sekitar pukul 8.00 WIB. Satu komando, satu tujuan," teriak mereka memulai aksinya.

Sebagai Koodinator aksi  Amirudin Todak menyampaikan, bahwa star awal perjalanan aksi jalan kaki ini di mulai pada Hari Rabu  28 /8/2019, yang lalu dengan sejumlah 50 orang,  
 

Dalam perjalan aksi jalan kaki 1000 km, dari provinsi jambi menuju Jakarta di  perjalanan 2 orang massa aksi sudah meninggal dunia dan 12 orang mengalami sakit yang sudah di pulangkan  ke keluarganya di jambi/ batang hari.ucapnya Amirudin.

Amirudin juga menyampaikan,  sampai pada hari ini Senin  30/9/2019 aksi massa transit ( istirahat ) di balai Desa Pinang Banjar sudah berjalan kaki selama 33 hari, dan sampai pada saat ini  massa aksi mengalami 2 ( dua ) orang pingsan, 1 ( satu ) orang sakit.

Koodinator aksi  beserta perangkat aksi mengucapkan terimakasih banyak kepada  Kades Pinang Banjar Aman Mahmud yang bersolidaritas serta memberi bantuan  berupa sembako, dan menurunkan tenaga medis dari desa untuk mengobati dan memeriksa massa aksi yang akan melanjutkan perjalanan.ungkapnya.


Amirudin Todak juga menambahkan, bahwa  aksi jalan kaki itu dilakukan untuk menemui persiden Joko Widodo dan menagih janji dalam penyelesaian konflik agraria antara SAD dan petani dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Berkah Sawit Utama. Konflik ini telah berlarut-larut sejak tahun 1986 dan hingga kini belum terselesaikan.

Kami sangat berharap sekali bisa berjumpa dengan persiden dan mengadu langsung soal konflik lahan yang tak kunjung selesai," ujar Amirudin.

Masa yang berjalan kaki ke Jakarta itu adalah masyarakat SAD batin 9 yang meliputi kelompok Jebak, Jangga, Bahar, Bulan, Telisak, Sikamis, Pemusiran, Burung Hantu, Singoan dan sebagian besar masyarakat kelompok tani. Selain ingin berjumpa dengan Presiden, mereka juga menolak pengukuran ulang Hak Guna Usaha (HGU) konsesi perkebunan kelapa sawit PT Berkah Sawit Utama (BSU).

Aksi jalan kaki ini kami lakukan karena mediasi di tingkat pemerintah daerah selalu tidak terealisasi. Menurut kami hanya presiden yang bisa menyelesaikan konflik ini dan masyarakat yang punya hak itu 846 KK, ini sudah disahkan pemerintah melalui tim terpadu," katanya.

Selain itu menuntut percepatan penyelesaian konflik, mereka juga meminta agar pemerintah mengembalikan lahan seluas 3.550 hektare kepada petani dan SAD. Kemudian lahan tersebut nantinya dikeluarkan sertifikat komunal supaya persoalan yang sama tidak terulang kembali.

Sementara itu,dalam persiapan perjalanan mereka ke Jakarta itu, Amirudin Todak mengaku tidak ada persiapan khusus atau hanya ada satu mobil komando untuk mengantisipasi peserta yang sakit di perjalanan. Mereka percaya niat baik ini akan terlaksana meski tidak ada persiapan.

Seluruh persiapan ala kadarnya, beberapa ibu-ibu juga ada yang terlibat, mereka bertugas memasak," katanya.

Diperkirakan perjalanan mereka akan menempuh jarak 1000 kilometer dan aksi jalan kaki ke Jakarta ini merupakan aksi yang keempat kalinya. Aksi terakhir dilakukan 22 /3 /2016. Tuntutannya pun masih sama, yakni penyelesaian konflik agraria.

Konflik agraria yang dialami SAD dan petani itu sudah berlangsung lama. Bahkan sampai perusahaan kelapa sawit berubah nama dari PT Asiatic Persada menjadi PT Berkat Sawit Utama, tak kunjung selesai.

Sudah empat kali kami aksi seperti ini, tapi konflik yang terjadi sejak puluhan tahun ini tidak selesai, kami berharap aksi ini adalah aksi yang terakhir agar kami diberikan jaminan dan perlindungan hukum untuk bertani," pungkas Amirudin.(Sudarmanto/Doyok).

No comments

PT. Figur Anugrah Media Mengucapkan: Selamat datang di www.Figurnews.com, Terima kasih telah berkunjung.. Semoga anda senang! Tertanda Pemred: Yuamran Andre