Breaking News

Kepala BPS Prov Sumbar, Sukardi : Penyebad terjadi Inflasi disebadkan harga cabai merah naik...

Padang(Sumbar),FN - BPS (Badan Pusat Statistik) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar)mengadakan pers release sekait pemantauan terhadap inflasi yang terjadi di Indonesia khususnya Sumatera Barat, Kamis 1 Agustus 2019 di aula lantai 2 gedung BPS Sumbar jam 11.00 wib.

Acara tersebut juga dihadiri oleh Kepala BPS Sumbar Sukardi dan juga Dinas terkait di lingkungan Kabupaten Kota provinsi Sumbar serta para awak media. Dalam kegiatan tersebut, Kepala BPS Pusat menyampaikan hasil pemantauan penyebab terjadi inflasi dan juga berkaitan NTP, Kunjungan Wisata, Transportasi termasuk ekspor impor. 

Untuk tahun 2019 ini, yang nanti merupakan salah satu sektor lapangan usaha di Jakarta pertumbuhan ekonomi pada industri manufaktur di sana 3,678 sen tahun 2018 yang sebesar 4,36% saja yang mengalami pertumbuhan positif siapa saja mengalami negatif.  Dan ini bisa dilihat slide berikutnya positif yang besarnya terjadi untuk pakaian jadi bagus dan 25,79% industri makanan masih tumbuh 5,02% demikian juga yang perlu mendapat perhatian, yang pertama adalah industri yang bukan mesin dan peralatannya di sana.

Tunggu negatif dari sebelumnya itu sudah terjadi reaksi pakaian wanita, melihat ekspor pada bulan-bulan sebelumnya di mana terjadi penurunan ekspor. Sedangkan untuk produk dari selain itu juga ada permintaan. 
Apakah faktor ini penyebabnya, yang mana daerah tidak tahu juga bahwa harga karet tidak merilis ekspor maupun jadi ini persoalan yang dihadapi oleh industri manufaktur mikro dan kecil pada triwulan kedua ini dibandingkan dgn 5,57% dari jumlah tenaga kerjanya antara 5 sampai 1999 dan industri tumbuh 52% dan jenis industri pertumbuhan positif. Yang besarnya terjadi pada industri komputer elektronik dan objek yang di sana naik 17,74% sementara sebaliknya industri yang mengalami pencemaran salah satunya adalah industri logam dasar.

Untuk Provinsi Sumatera Barat pada triwulan II tahun 2019 turun sebesar -21,61 persen (y-on-y) terhadap triwulan II tahun 2018. Hal ini disebabkan Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang Provinsi Sumatera Barat pada triwulan II tahun 2019 turun sebesar 4,37 persen (q-to-q) terhadap triwulan I tahun 2019. Sedangkan Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil Provinsi Sumatera Barat pada triwulan II tahun 2019 naik sebesar 0,83 persen (y-on-y) terhadap triwulan II tahun 2018. Dan Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil Provinsi Sumatera Barat pada triwulan II tahun 2019 turun sebesar 6,13 persen (q-to-q) terhadap triwulan I tahun 2019.

Nilai ekspor Sumatera Barat bulan Juni 2019 mencapai US$104,17 juta, terjadi peningkatan sebesar 3,72 persen dibanding ekspor bulan Mei 2019.  Dan secara kumulatif ekspor Sumatera Barat Januari-Juni 2019 mencapai US$609,17 juta atau turun sebesar 21,20 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Untuk Golongan barang ekspor pada bulan Juni 2019 paling besar adalah lemak & minyak hewan/nabati sebesar US$79,02 juta, diikuti oleh golongan karet dan barang dari karet sebesar US$18,68 juta. Sedangkan nilai impor Sumatera Barat bulan Juni 2019 mencapai US$49,82 juta, terjadi peningkatan sebesar 12,43 persen dibanding impor bulan Mei 2019.

Kinerja ekspor Sumatra Barat sepanjang awal tahun ini mengalami kejatuhan, melanjutkan tren buruknya kinerja ekspor sepanjang 2018 lalu.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar mencatatkan ekspor daerah itu selama Januari sebesar US$88,66 juta mengalami penurunan 36,83% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang masih menyentuh US$140,36 juta.

Angka itu juga lebih rendah dari pencapaian di bulan sebelumnya yang tercatat US$113,36 juta atau mengalami penurunan 21,79%.

“Ekspor Sumbar selama Januari 2019 sebesar US$88,66 juta, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat US$113,36 juta,” kata Sukardi, Kepala BPS Sumbar, Senin (4/3/2019).


Dia menyebutkan ekspor daerah itu masih didominasi komoditas minyak hewan nabati atau cruid palm oil (CPO) dan karet.

Kontribusi dua komoditas tersebut dalam stuktur ekspor Sumbar yang semuanya nonmigas mencapai 75%. CPO bahkan berkontribusi hingga 64,61% terhadap total ekspor daerah itu, dan karet berkontribusi 10,46%.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumbar Ramal Saleh mengatakan saat ini ketergantungan ekspor terhadap dua komoditas tersebut masih sangat tinggi, sehingga ketika harganya anjlok di pasar global maka akan langsung berdampak terhadap kinerja ekspor daerah itu.

“Idealnya, dua komoditas ini [CPO dan karet] cukup 30% saja kontribusinya terhadap ekspor. Komoditas lainnya harus ditingkatkan,” kata Ramal.

Dia menyebutkan untuk menjaga ekspor jangka panjang, pemerintah Sumbar sudah harus membidik pengembangan komoditas lokal, sehingga mengurangi ketergantungan terhadap CPO dan karet.

Menurutnya, Sumbar merupakan daerah yang kaya dengan komoditas lainnya, seperti kopi, teh, gambir, pinang, kayu manis, pala, lada, cokelat, vanila dan berbagai komoditas lainnya.

Sayangnya, komoditas tersebut tidak dikelola dengan baik, dan belum dijadikan prioritas untuk ekspor. Padahal, permintaan di luar negeri sangat tinggi.

“Ke depan, komoditas lokal ini yang harus dikembangkan. Orientasinya sudah harus ekspor, dan pemerintah harus fasilitasinya,” katanya.

Ramal mengungkapkan ada banyak lahan yang bisa dikembangkan untuk komoditas lokal, terutama lahan milik masyarakat dan dikembangkan secara mandiri. Apalagi, tanah Sumbar termasuk subur untuk menanam komoditas tersebut.

Kadin, imbuhnya, akan membantu mendorong peningkatan jumlah eksportir. Sebab, dengan semakin banyaknya jumlah eksportir secara tidak langsung juga berkontribusi meningkatkan ekspor.

Saat ini, kata Ramal, Sumbar baru memiliki sekitar 42 eksportir, sehingga jumlahnya tidak memadai.

“Paling tidak, Sumbar butuh 100 eksportir, sekarang baru ada 42. Kami fasilitasi untuk peningkatan jumlah pelaku usaha ekspor ini,” katanya.  

Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Sumatera Barat melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM) bulan Juni 2019 mencapai 5.237 orang, mengalami peningakatan 46,20 persen dibanding wisman Mei 2019 yang tercatat sebanyak 3.582 orang. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Sumatera Barat bulan Juni 2019 mencapai rata-rata 54,72 persen; mengalami peningkatan 20,15 poin dibanding TPK bulan Mei 2019 sebesar 34,57 persen. Sedang untuk jumlah barang yang diangkut melalui angkutan laut dalam negeri Sumatera Barat pada bulan Juni 2019 mengalami kenaikan sebesar 10,92 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang NTP Sumatera Barat bulan Juli 2019 tercatat sebesar 93,59 atau naik 0,13 persen dibanding bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 93,47 (Juni 2019). 
Namun pada bulan Juli 2019 NTP masing-masing subsektor tercatat sebesar 91,63 untuk subsektor tanaman pangan (NTPP), 81,00 untuk subsektor hortikultura (NTPH), 95,71 untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTPR), 103,25 untuk subsektor peternakan (NTPT), dan 104,02 untuk subsektor perikanan (NTPN). Subsektor perikanan terbagi menjadi dua, yaitu subsektor perikanan tangkap dan perikanan budidaya dengan NTP masing-masing sebesar 107,09 dan 103,28. Dan selanjutnya pada bulan Juli 2019 rata-rata harga gabah kualitas GKP di tingkat petani mengalami peningkatan sebesar 2,89 persen dari Rp 5.155,66 per kg (Juni 2019) menjadi Rp 5.304,91 per kg (Juli 2019). 

Untuk di Kota Padang pada bulan Juli 2019 terjadi inflasi sebesar 0,89 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 143,28 pada bulan Juni 2019 menjadi 144,55 pada bulan Juli 2019. Dan laju inflasi tahun kalender Kota Padang sampai Juli 2019 terjadi sebesar 3,42 persen. Sedangkan laju inflasi year on year (Juli 2019 terhadap Juli 2018) sebesar 3,82 persen.

Namun di Kota Bukittinggi pada bulan Juli 2019 mengalami inflasi sebesar 0,46 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 134,24 pada bulan Juni 2019 menjadi 134,86 pada bulan Juli 2019. 
Laju Inflasi tahun kalender sampai bulan Juli 2019 sebesar 2,28 persen, sedangkan laju inflasi year on year (Juli 2019 terhadap Juli 2018) adalah sebesar 4,48 persen.

Dalam sesi tanya jawab, pihak Bank Indonesia (BI) mempertanyakan tentang hal gunting rambut yang baru dilakukan BPS Sumbar dalam sampel dan ini cukup menarik serta baru dimunculkan.

"Kalau mengenai gunting rambut pria memang baru kami lakukan dan itu salah satu memantau tempat gunting rambut pria," jawab Sukardi.

Dalam hal ini Sukardi juga mengatakan, terjadi inflasi disebabkan harga cabai merah naik dan belum ada penurunan hingga sa'at ini. 




No comments

PT. Figur Anugrah Media Mengucapkan: Selamat datang di www.Figurnews.com, Terima kasih telah berkunjung.. Semoga anda senang! Tertanda Pemred: Yuamran Andre